Selasa, 25 Januari 2022

 

BAGAIMANA MERANCANG SEBUAH CERITA?

Disarikan oleh: Agus Harianto, M.Pd.

 

Rumuskan Ide Utama Cerita

Setelah tahu genre cerita yang ingin digeluti, maka buatlah alternatif ide yang ada di benakmu, lalu tulis dan seleksi ide-ide yang ada. Kemudian dari satu ide tersebut, rumuskan dalam satu kalimat berstruktur lengkap untuk memudahkan penyortiran. Tidak semua ide harus diubah menjadi cerita.

Tentukan Tokoh Utama

Agar cerita tak melebar ke mana-mana, pastikan sudah menentukan siapa tokoh utama dan karakter tokoh yang akan ditonjolkan, sebagai awal dari karakterisasi yang kuat. Karena tokoh utama sebagai penggerak dalam sebuah cerita.


Buat Plot Besar

Simpelnya, membuat kerangka plot itu bagaimana kejadian utama di awal, tengah, dan akhir. Jangan berpikir untuk membuat cerita yang mengalir begitu saja, karena membuat plot sangat bermanfaat untuk kelancaran proses kreatif.


Mulai Menulis

Mulailah menulis novel terlebih dahulu. Masalah penyuntingan bisa dilakukan setelahnya. Utamakan dahulu menyusun kisah, dengan bebas dan mengeksplorasi gaya berceritamu dari waktu ke waktu.

Kamu bisa memulai dari mana saja, tidak harus bab pertama. Menulis dengan cara mengalir tanpa kekangan, namun tetap mengaplikasikan prinsip dan pijakan yang jelas, yakni plot besar yang sudah dibuat. Disarankan mulai menulis dari bab dan struktur plot yang ingin kamu buat lebih dulu.

Setting Cerita

Tetapkan setting waktu dan tempat. Gambarkan setting yang pentingnya untuk mendukung pengembangan cerita novel yang kamu buat. Gambarkan setting tersebut agar menarik pembaca seolah mengalami apa yang tokoh alami dalam cerita tersebut

.
Buat Dialog yang Penuh Arti

Tulis dialog yang penting dan punya tujuan, langsung pada masalah, langsung menjelaskan, tidak berputar-putar, tidak bertele-tela, dan tidak hambar.


Klimaks pada Novel

Mengarahkan klimaks pada novel yang kamu buat juga termasuk hal penting. Klimaks menjadi titik balik pada cerita dan bagian yang paling dramatis dari cerita.

Klimaks dibuat ketika protagonis memahami apa yang sebaiknya dilakukan, atau menyadari tindakan terbaik yang seharusnya diambil. Ketegangan yang mengganggu protagonis mengharuskannya mengambil tindakan terbaik, yang berujung pada konflik akhir atau klimaks.

 

Menentukan Point of View

Jangan lupa menentukan sudut pandang pengarang. Tentukan denga sungguh-sungguh kalian akan mempergunakan akuan sertaan, akuan taksertaan, diaan terbatas, atau diaan serbatahu.




Sumber: 
https://wolipop.detik.com/worklife/d-4761126/7-cara-membuat-novel-bagi-pemula.

Sabtu, 06 Februari 2021

STRUKTUR FISIK DAN BATIN PUISI

 

STRUKTUR FISIK DAN BATIN DALAM PUISI

oleh:

Agus Harianto, M.Pd.


STRUKTUR FISIK

Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi yang bersifat nampak dalam bentuk susunan kata-katanya. Struktur fisik puisi terdiri dari :

1. Tipografi

Tipografi (perwajahan puisi) yaitu bentuk tatanan penulisan puisi, seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, rata kanan-kiri, bentuk tulisan yang kadang teratur, kadang zig zag, dan kalimat yang tak selalu diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik. Seringkali seorang penyair kontemporer mengekspresikan gejolak perasaannya dengan menonjolkan aspek visual puisi di samping melalui kata-kata. Seperti puisi tipografi yang lebih mementingkan sisi visual pada puisi.

2. Diksi

Diksi adalah pemilihan kata. Setiap karya sastra, entah puisi, prosa, novel, perlu memperhatikan pemilihan diksi yang tepat dengan cara memahami karakter diksi pada setiap jenis karya sastra yang berbeda-beda. Karena puisi cenderung bukan karya tulis naratif atau deskriptif, maka pilihan kata pada puisi musti diperhatikan secermat dan setepat mungkin karena memiliki kaitan erat pada makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

3. Imaji

Imaji adalah gambaran, kesan, atau apa yang ada dalam pikiran kita ketika kita membayangkan atau mengingat sesuatu. Imaji bisa berupa gambaran visual, suara, bau, rasa, atau kombinasi dari semua indra tersebut. Kalau didefinisikan, imaji (citraan) adalah kata-kata yang dapat mengungkapkan sebuah pengalaman indrawi seperti penglihatan (visual), pendengaran (auditif), atau perasaan (imaji taktil).

Termasuk puisi yang bagus, bagaimana seorang penulis puisi bisa memilih kata-kata yang bisa membangkitkan imajinasi para pembaca. Tanpa imaji, puisi akan terasa hambar dan mati. Imaji bisa dimunculkan dengan menghadirkan benda-benda konkret dengan memposisikannya dalam bentuk personifikasi atau metafora.

4. Kata Konkret

Dalam sastra, kita mengenal kata abstrak dan kata konkret dengan makna yang berlawanan. Kata abstrak lebih memerlukan pendalaman pemahaman karena sifatnya yang tidak nyata.

Berkebalikan dengan kata abstrak, kata konkret merupakan kata yang memiliki rujukan berupa objek yang dapat diserap oleh panca indera. Ciri-cirinya, kata konkret memiliki makna yang bisa diraba, dirasa, didengar, dicium, atau dilihat. Dalam struktur puisi, kata konkret diperlukan karena memungkinkan membangkitkan imaji para pembaca. Seperti yang sudah disinggung pada poin sebelumnya, imaji berguna untuk membuat sebuah puisi menjadi lebih hidup.

5. Bahasa Figuratif

Bahasa figuratif sama dengan majas, yaitu kata-kata yang bersifat konotatif untuk menimbulkan efek-efek tertentu. Pada puisi, majas banyak digunakan untuk memperindah pada aspek pemilihan kata. Selain itu, majas juga digunakan untuk menyampaikan suatu pesan dengan cara memancing imajinasi pembaca dengan menggunakan kiasan untuk mewakili pikiran dan perasaan seorang penulis.

Ada banyak sekali jenis majas yang digunakan dalam karya sastra yang terdiri dari majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, dan majas penegasan.

6. Rima dan Irama

Rima dan irama dalam puisi akan membentuk keselarasan bunyi yang harmonis dan padu untuk membangun satu kesatuan makna yang utuh. Irama timbul karena pengulangan bunyi (rima) yang berturut-turut dan bervariasi.

 

Rima

Rima (persajakan) yaitu pengulangan bunyi yang teletak dalam larik sajak atau akhir sajak. Rima memiliki peran dalam menghadirkan keindahan puisi. Ada banyak jenis pola rima seperti a-b-a-b, a-a-b-b, atau yang lainnya.

 

Irama

Irama adalah permainan bunyi pada akhir kata, frasa, atau kalimat. Nada-nada pada puisi biasanya digunakan secara serentak dan berkesinambungan untuk membangun suara yang harmonis.

Ada namanya metrum, yaitu irama yang sifatnya tetap. Dalam metrum, pergantian irama sudah ditentukan antar baris atau alineanya. Tekanan nada tinggi rendah sudah di tentukan.

Vokal dan konsonan pada setiap akhir baris puisi sudah ditentukan. Suku kata pada akhir baris pun sudah ada polanya. Puisi yang menggunakan metrum yang ketat seperti tembang-tembang jawa dan macapat.

Ada namanya ritme, yaitu irama yang disebabkan perubahan nada tinggi rendah secara teratur. Berbeda dengan metrum yang sifatnya tetap, pola ritme tak selalu sama.

Ritme merupakan hasil kombinasi semua jenis nada, intonasi, dan tekanan sehingga menghasilkan suara yang harmonis.

 

STUKTUR BATIN

Berkebalikan dengan struktur fisik, struktur batin merupakan unsur pembangun puisi yang tidak nampak secara langsung pada penulisan puisi. Struktur batin puisi terdiri dari tema, rasa, nada, amanat.

1. Tema

Puisi merupakan bentuk karya sastra yang sarat akan pesan moral yang terbungkus dalam tema tertentu. Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair dalam puisi. Gagasan ini merupakan landasan pemikiran penyair dalam menciptakan karya puisi.

2. Rasa

Ketika menulis puisi, seorang penyair akan mengangkat satu tema dan pokok permasalahan. Rasa (feel) adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan pada puisi yang dibuat.

Pengungkapan suatu pokok permasalahan dan sikap terhadap permasalahan tersebut tidak bergantung pada kemampuan teknis dalam membuat puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosial dan psikologisnya.

3. Nada

Nada (tone) adalah sikap penyair kepada pembaca. Nada juga berkaitan dengan tema dan rasa, penyair bisa menyampaikan tema yang diangkat dengan nada menggurui, mendikte, mengajak, atau dengan nada sombong dan merendahkan pembaca.

4. Amanat

Amanat adalah pesan inti dari penyair yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui puisi. Amanat menjadi dasar dan tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi tersebut.

 

Kamis, 28 Januari 2021

 

TERNYATA MENJADI GURU ITU UNIK

Oleh

 Agus Harianto, M.Pd.

 

Masa pandemi covid 19 ternyata membuka banyak simpul kehidupan yang selama ini tertutup. Banyak orang merasakan bahwa pandemi covid 19 membuat keresahan dan kekacauan dalam segala sisi kehidupan. Seakan semua hal yang sudah tertata menjadi kacau berantakan dan tidak beraturan lagi. Dan ketidakteraturan ini sudah barang tentu menjadikan sistem yang sudah berjalan sesuai dengan rel menjadi lepas dari jalur. Akibatnya tentu saja banyak penyimpangan yang sengaja dilakukan untuk melakukan penyelamatan atau penyimpangan yang memang secara tidak disengaja terjadi.  Namun satu hal yang harus diakui dengan jujur bahwa banyak pula hal menguntungkan sebagai simpul baru di era pandemi ini.

 

Bidang pendidikan merupakan salah satu bagian dari kehidupan berbangsa ini yang harus melakukan penataan ulang sistemnya. Bertepatan dengan pejabat baru di kementerian yang mengunggah banyak kebijakan baru melalui merdeka belajar, dunia pendidikan Indonesia benar-benar mengalami guncangan  yang cukup membuat banyak orang tersengat. Keterkejutan yang bersifat kolosal ini tidak hanya dialami oleh praktisi pendidikan saja, melainkan semua stake holder juga merasakannya. Banyak pihak merasakan betapa perubahan karena kebijakan yang diambil oleh kementerian mampu membuat sebuah momen baru yang tampaknya akan merujuk pada perubahan kurikulum.

Perubahan kurikulum merupakan sebuah keniscayaan. Jadi sangat mungkin terjadi perubahan kurikulum yang memang sudah waktunya mengalami penyesuaian. Berbagai persiapan yang dilakukan pemerintah dalam upaya penyesuaian atau perubahan kurikulum pada akhirnya memang akan berdampak munculnya pro dan kontra baik di kalangan intern maupun ekstern. Perbedaan pendapat yang dilandasi berbagai kepentingan pasti akan mewarnai pergeseran, penyesuaian, atau perubahan ini. Kepentingan yang sesuai dengan kebijakan terbaru akan bisa selaras sejalan, sebaliknya adalah jika sebuah kepentingan bertolak belakang dengan  kebijakan terbaru maka dipastikan akan terjadi penolakan dengan berbagai cara.

Salah satu kebijakan dalam bidang pendidikan adalah pembelajaran jarak jauh dalam jaringan. Pembelajaran model seperti ini tentu saja merupakan salah satu alternatif solusi yang baik dan bijak dalam masa pandemi covid 19 ini. Namun sebaik apapun kebijakan yang diluncurkan oleh pemerintah tentunya tetap saja akan melahirkan pro dan kontra di masyarakat. Perbedaan pandangan berbasis kepentingan senantiasa menjadi alasan dan latar belakang yang kuat untuk melahirkan berbagai macam pemikiran yang akan berpihak pada kelompok pro atau kontra.

Pembelajaran jarak jauh yang sudah beberapa bulan terakhir ini dilaksanakan benar-benar membuka peluang pemikiran dan pandangan baru bagi semua orang terutama yang berkecimpung langsung dalam dunia pendidikan. Pembelajaran tidak lagi bisa secara penuh dilaksanakan di sekolah sebagaimana mestinya. Dengan demikian dapat dipastikan betapa pontang-pantingnya orang tua untuk mendampingi putra-putri mereka di rumah dalam proses belajar jarak jauh yang dilaksanakan oleh sekolah atau guru. Mungkin tidak terlalu bermasalah jika putra-putri mereka sudah tingkat SMP/SMA/SMK. Namun bisa dibayangkan jika yang harus didampingi masih tingkat PAUD dan SD. Padahal jika dihitung dapat dipastikan jumlah pelajar di tingkat PAUD dan SD pasti lebih banyak daripada tingkat di atasnya. Tentu terjadi fenomena gegap gempita berkaitan dengan keberatan orang tua ketika putra-putri mereka harus secara penuh belajar di rumah.

Sebagaimana yang sudah sering kita dengar banyak tuntutan dari pihak orang tua kepada sekolah agar segera membuka kembali pembelajaran secara tatap muka di sekolah. Sementara bagi sekolah tidak semudah itu melaksanakan pembelajaran tatap muka dalam kondisi pandemi covid 19 sebagaimana kita alami bersama ini. Banyak hal dan prosedur yang harus dijalani oleh sekolah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka sebagaimana tuntutan orang tua tersebut. Sudah barang tentu pada akhirnya banyak orang tua yang terpaksa harus menerima kondisi tersebut. Nah di sinilah tampaknya mulai terpikir berbagai macam hal berkaitan dengan betapa beratnya tugas yang harus diemban oleh seorang guru di sekolah untuk mendidik dan mengajar putra-putri bangsa ini.

Menjadi guru di Indonesia ini memang unik, sangat kompleks tugas yang harus diemban baik secara adminitratif maupun dalam proses pembelajaran dan penilaian. Dalam hal pembelajaran, kelengkapan adminitrasi merupakan tuntutan profesional yang harus dipenuhi mulai dari melaksanakan analisis kompetensi inti dan kompetensi dasar, merancang silabus, membuat program tahunan/semester, mengembangkan RPP, menulis soal sampai dengan mengadakan berbagai macam analisis berkaitan dengan pembelajaran dan penilaian. Di dalam kelas, seorang guru dituntut selain dapat bersikap sangat profesional sebagai pengajar juga harus mampu melaksanakan proses pendidikan yang tidak mudah dalam kondisi yang sangat beragam bergantung dengan perbedaan karakteristik daerah dan peserta didik.

Bahkan ketika seorang guru harus mendidik dan mengajar putra-putri mereka sendiri di rumah, ternyata juga mengalami banyak permasalahan dan hambatan yang tidak mudah untuk dicari solusinya. Maka bisa dibayangkan jika orang tua yang tidak berprofesi sebagai seorang guru. Dari sinilah sisi positif berkaitan dengan pandangan terhadap profesi seorang guru mulai bermunculan. Tidak salah jika tunjangan sertifikasi pendidik yang diberikan kepada guru. Sangat layak jika secara profesional guru mendapatkan tunjangan tersebut. Pandangan miring terhadap guru bahwa tunjangan profesi tersebut tidak bisa meningkatkan kualitas kinerja atau tidak linier dengan kompetensi dan keluaran (outcome) benar-benar tidak adil dan tanpa dasar yang jelas. Mungkin saja pandagan tersebut benar, tetapi sangat mungkin tidak bisa diberlakukan secara umum (generalisasi).

Tugas-tugas guru sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan perundangan tentu saja merupakan tuntutan dan kewajiban yang memang bersifat mutlak harus dipenuhi oleh seorang guru.  Guru bertugas sebagai pengajar, pembimbing, dan administrator. Ketiga tugas tersebut merupakan tugas pokok profesi yang melekat pada guru. Tentu saja hal tersebut bukan hal yang bisa dikatakan mudah. Menjadi seorang pengajar, pembimbing, sekaligus administrator dapat dipastikan akan membutuhkan energi yang luar biasa. Bahkan sering juga diketahui bahwa seorang guru masih harus menyelesaikan tugas-tugasnya walaupun sudah berada di tengah-tengah keluarganya. Apalagi dalam masa pandemi seperti ini hampir semua waktu di rumah adalah untuk layanan pembelejaran dalam jaringan.

Kenyataan ini menunjukkan betapa sebenarnya guru merupakan profesi yang sungguh unik dan sangat kompleks permasalahan yang harus dihadapinya. Berbagai macam kebijakan dan tuntutan yang kadang saling bertolak belakang memerlukan daya pikir yang tinggi dan penyikapan yang sangat arif. Kompleksitas dan kontroversi dalam profesi guru merupakan bentuk nyata betapa uniknya sebenarnya profesi seorang guru. Akan lebih unik dan cenderung memprihatinkan jika kita sedikit membuka cakrawala kenyataan pendidikan di daerah pedalaman dan tertinggal.

Guru tidak mungkin hanya sekadar menyampaikan materi di dalam kelas dan selesai. Keberadaan seorang guru di kelas merupakan salah satu bagian saja dalam tugas profesi guru. Kelas dalam sudut pandang seorang guru tentunya bukan sekedar yang dibatasi oleh dinding, ukuran luas sebuah bangunan yang dilengkapi dengan papan tulis, meja kursi, dan berbagai properti lainnya, melainkan sudah dalam pengertian yang sangat luas. Sebuah tempat yang nyaman untuk belajar bagi sekelompok peserta didik misalnya taman sekolah, perpustakaan, bahkan kantin sekolah pun bisa dikatakan sebuah kelas. Malah secara absurd sekarang kita kenal kelas dalam dunia maya alias kelas dalam jaringan untuk pembelajaran secara online. Dengan  kelas maya ini benar-benar tidak ada lagi batasan ruang dan waktu bagi guru dan peserta didik untuk berinterakasi dalam pembelajaran.

Di antara padatnya tugas pembelajaran, pembimbingan, dan adminitrasi, guru masih harus senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan dan menyisipkan nilai-nilai pendidikan dalam segala bentuk yang memungkinkan. Lepas dari tugas-tugas tersebut masih ada lagi hal yang tidak bisa diabaikan adalah jika seorang guru mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah, kepala perpustakaan, kepala laboratorium, wali kelas, dll. Tentu saja hal tersebut merupakan bagian dari tugas professional yang memang harus diemban dengan baik.

Tuntutan kompetensi seorang guru memang cukup kompleks, meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut merupakan satu kesatuan tidak bisa dipisah-pisahkan satu dengan lainnya. Kompetensi tersebut melekat pada diri guru dalam pemenuhan tugas pokok dan fungsinya. Hal ini tentu saja tidak semuanya bisa diketahui dan dimengerti oleh orang tua/wali. Masih banyak yang menganggap bahwa profesi guru adalah profesi yang mudah dan tidak menjadi pilihan utama.

Ketika pandemi covid 19 melanda dunia dan kebijakan pembelajaran jarak jauh digulirkan oleh pemerintah, orang tua/wali mulai menyadari ternyata untuk menjalani profesi sebagai seorang guru bukanlah hal yang mudah. Orang tua/wali di rumah hanya mendampingi putra-putrinya ketika sedang belajar secara online, tidak perlu memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan kompetensi guru. Ternyata yang terjadi banyak sekali keluhan tentang sulit dan beratnya mendampingi anak-anak dalam belajar di rumah. Secara umum memang mendampingi anak-anak belajar terutama untuk anak-anak tingkat dasar sangat sulit karena mereka belum memiliki kemampuan dasar dan rasa tanggung jawab kuat. Namun demikian bukan berarti anak-anak tingkat lanjutan tidak perlu mendapat perhatian dan pendampingan orang tua/wali.

Banyaknya pendapat dan isu tentang pembelajaran jarak jauh, pertanyaan tentang kapan pembelajaran dalam jaringan ini berakhir, dan sampai kapan pemerintah akan sanggup memberikan bantuan kuota data internet kepada seluruh peserta didik/mahasiswa, guru, dan dosen, semakin memperkuat sudut pandang stake holder bahwa memang menjadi guru itu tidak mudah. Profesi unik yang bisa menentukan bentuk karakteristik bahkan jati diri anak bangsa ini harus mendapat perhatian lebih baik lagi jika ingin kualitas pendidikan di negeri ini semakin membaik dan bisa bersaing di kancah dunia internasional.

(Dimuat di Parja Post Edisi 105/20 Nov.- 5 Des. 2020)

Kamis, 10 September 2020

Menulis Resensi Drama

 

Analisis Isi, Tema, dan Pesan dalam Pementasan Drama

Oleh: Agus Harianto, M.Pd.

Menganalisis isi, tema, dan pesan dalam pementasan drama pada dasarnya merupakan sebuah bentuk kegiatan apresiasi yang sangat menarik. Mengapresiasi pementasan drama memerlukan keterlibatan secara  langsung dari seorang apresiator. Seorang apresiator tidak bisa tinggal diam di suatu tempat tanpa hadir dalam kegiatan pementasan tersebut. Berbeda dengan apresiasi puisi atau novel yang bisa dilakukan seorang diri oleh apresiator, untuk bisa melakukan apresiasi dengan baik apresiator harus terlibat secara langsung secara lahir batin. Maksudnya secara lahir atau fisik dia hadir dan menyaksikan pementasan drama, sedangkan secara batin atau psikis dia bertindak sebagai penikmat sekaligus pemberi apresiasi. Hal inilah yang menjadikan kegiatan apresiasi drama ini menjadi berbeda. Hasil nyata dari kegiatan apresiasi drama adalah resensi drama.

 

Resensi Drama

         Resensi berasal dari bahasa Latin, revidere (kata kerja) atau recensie. Artinya "melihat kembali, menimbang, atau menilai." Tindakan meresensi mengandung "memberikan penilaian, mengungkapkan kembali isi pertunjukan, membahas, dan mengkritiknya.

         Resensi drama yang ditonton merupakan pemberian pertimbangan atau pembicaraan terhadap drama yang ditonton. Penulisan resensi drama bertujuan memberikan rangsangan kepada pendengar agar menonton pementasan drama tersebut. Selain itu, resensi drama bernilai promosi yang akan membantu penulis drama memperkenalkan drama tersebut kepada masyarakat pembaca. Menulis resensi drama yang ditonton setidaknya harus memperhatikan dua lapis penilaian atau pertimbangan, yakni nilai sastra (drama) dan manfaat untuk hidup. Nilai kesastraan terungkap dari kegiatannya yang disebut apresiasi sastra, sedangkan manfaat untuk hidup terungkap dari apresiasinya atas kebutuhan masyarakat.

         Dengan demikian keterlibatan secara lahir dan batin dalam apresiasi drama meupakan suatu yang sangat mutlak diperlukan agar mampu memberikan apresiasi yang sempurna. Untuk dapat melaksanakan sebuah kegiatan apresiasi pementasan drama yang pada akhirnya diwujudka dalam bentuk resensi pementasan drama langkah-langkah yang harus diperhatikan untuk diikuti dalah sebagai berikut.

         Langkah pertama adalah adanya keterlibatan jiwa. Artinya, kita harus mempunyai kepekaan untuk dapat memahami masalah, merasakan perasaan, dan membayangkan dunia rekaan yang dipentaskan melalui kemampuan berempati. Hal ini berarti kita harus dapat bertindak seolah kita adalah tokoh-tokoh yang terdapat dalam pementasan drama tersebut. Dengan demikian kita akan terlibat secara pribadi dalam pementasan tersebut. Peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh akan menjadi masalah yang kita hadapi. Jika hal ini mampu kita lakukan berarti kita sudah masuk secara psikis dalam kegiatan pementasan tersebut. Tentu saja kondisi ini merupakan faktor mutlak penentu keberhasilan penulisan resensi pementasan drama.

         Langkah kedua, adalah bertindak seolah seorang dramawan. Dalam langkah ini kita harus mengetahui cara dramawan menerapkan asas keutuhan, keseimbangan, keselarasan, dan tekanan yang tepat pada pengalaman yang dipilih dan disusun dalam pertunjukan. Dengan kondisi ini sebenarnya kita mempunyai rasa kepuasan yang lebih besar dibandingkan  kepuasan yang kita dapatkan pada langkah pertama. Keberadaan kita seolah-olah benar-benar sebagai dramawan itu sendiri. Pada kondisi ini kita bisa memberikan penghargaan yang tinggi kepada dramawan dalam pementasan tersebut.

         Langkah ketiga adalah menemukan relevansi pengalaman yang didapat dari karya drama dengan pengalaman kehidupan nyata yang dihadapi. Dalam hal ini kita mendapatkan pemahaman yang sangat berarti tentang kehidupan. Walaupun kehidupan yang diciptakan oleh dramawan adalah dunia fantasi, justru dengan begitu kita bisa mengenal dunia nyata denga lebih baik karena dunia rekaan tersebut.

 

Rabu, 02 September 2020

Kumpulan Soal Bahasa Indonesia (wajib dan peminatan)

 KUMPULAN SOAL BAHASA INDONESIA 

Menulis soal memang bukan suatu pekerjaan yang sederhana, banyak langkah yang harus dilakukan agar menghasilkan soal yang berkualitas. Namun demikian bukan berarti

menulis dan mengembangkan soal sulit dilakukan. Pada postingan kali ini saya ingin berbagi kumpulan soal Bahasa Indonesia/Bahasa dan Sastra Indonesia yang saya tulis untuk kepentingan pembelajaran dan penilaian di sekolah dan MGMP Kabupaten.

Silakan klik tautan berikut untuk mendownload kumpulan soal Bahasa Indonesia/Bahasa dan Sastra Indonesia.

Como Baixar