FATAMORGANA CINTA
Ulasan cerpen Misi Kuping Oranye karya Rosandra
Oleh: Agus Harianto, M.Pd.
Pengalaman masa silam yang membentuk kepribadian seseorang kadang merupakan sebuah bentuk fatamorgana yang sulit sekali dihilangkan. Berbagai bentuk kenangan menyatu, tumpang tindih dengan permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks menjadikan sulit sekali untuk memetakan fatamorgana tersebut. Dampak dari hal tersebut adalah betapa susah mewujudkan kembali fatamorgana menjadi sesuatu yang lebih realis dan lebih hidup. Apa yang kita rasakan pada masa silam kadang merupakan bentukan dari butir-butir cinta yang kian menghijau. Bisa saja di tengah perjalanan menjadi menguning dan tidak pernah membulirkan butir-butir realita dari cinta tersebut.
Misi Kuping Oranye yang ditulis dengan gaya realis dan sederhana cenderung membawa kita pada pengalaman diri sendiri di masa lampau. Gaya bahasa yang menarik, penuturan yang bersifat apa adanya dapat memicu kesemangatan untuk terus menkmati kepenasaran kita terhadap alur ceritanya. Memang terdapat beberapa gaya bahasa yang memerlukan eksploitasi otak kanan kita. Tetapi secara umum pengarang ingin mengajak kita pada kesederhanaan bercerita atau mungkin bercinta.
Lantas apa yang ingin disampaikan secara tersirat dalam kisah ini? Sudah pasti dan dengan mudah bisa kita tebak adalah kata “cinta”. Rosandra menyatakan betapa cinta itu adalah sebuah bentuk cita-cita. Untuk menggapainya diperlukan perjuangan yang serius. Tidak mungkin cita-cita tersebut bisa kita raih tanpa mengorbankan banyak hal. Tokoh utama sebagai simbol pengejawantahan perjuanngan bebar-benar total dalam memperjuangkan semuanya. Sebuah misi yang dia beri nama Misi Kuping Oranye ditatanya dengan perhitungan yang matang. Alhasil...dia tidak peduli dengan hasil akhirnya.
Apakah hal ini merupakan ekspresi gaya hidup yang memang harus senantiasa disesuaikan dengan tuntutan zaman? Tentu saja hal tersebut sangat bergantung pada kondisi psikologis tokoh atau justru pembaca. Kemudian apakah bisa kita kembalikan pada diri kita masing-masing sebagai unsur pengembangan kepribadian manusia? Berdasarkan hal itu sangat mungkin kita bisa melakukan negosiasi dengan diri sendiri bahwa masa lalu itu membentuk diri kita sendiri atau tidak. Ataukah masa lalu itu tidak memberikan konstribusi apapun dalam kehidupan kita selanjutnya.
Seperti kita ketahui, semua orang mempunyai visi dalam hidupnya. Masalahnya kita tidak tahu apakah visi tersebut ditindaklanjuti dengan membentuk misi-misi yang tepat? Ketika semua orang mempunyai cita-cita, ketika semua orang berusaha untuk meruntuhkan egoistis diri, ketika semua orang mulai menghancurkan argumen-argumen keakuannya, maka di situlah mulai tertata/terbentuk sebuah penyadaran diri yang harus segera ditangkap menjadi konsep-konsep penyadaran diri yang utuh. Seperti itukah yang dimaksudkan Rosandra melalui tokoh-tokohnya, Will dan Atan?
Will dan Atan sebagai tokoh-tokoh sentral dalam Misi Kuping Oranye menggambarkan betapa rumitnya seseorang dengan segala macam bentuk variasi kehidupannya. Will bisa saja gagal dengan misinya, tetapi siapa sangka justru dia dimenangkan oleh misi lain yang diskenariokan oleh Atan yaitu Misi Bocah Sariawan. Demikian pula implikasinya dalam keseharian, banyak kegagalan yang kita alami sebagai manusia sosial. Tetapi marilah kita mengingat kembali berapa banyak unsur tiba-tiba atau ketidaksengajaan yang justru dapat mengangkat diri kita sebagai makhluk sosial yang lebih bermartabat?
Dengan gaya bercanda, pengarang mampu mengeksploitasi nilai-nilai individualisme menjadi nilai sosial yang luar biasa. Coba saja kita lihat, bagaimana sikap Will dan Atan ketika harus menolong seorang Ibu yang akan melahirkan anakanya? Sudah jelas kita akan membayangkan betapa meraka akan ‘kocar-kacir’ dibuatnya. Tetapi sikap dewasa Atan ternyata mampu membuat semuanya menjadi lebih baik. Si Ibu tertolong, dan Will merasa menjadi gadis yang jauh lebih feminin dari sebelumnya.
Sebagaimana cerita-cerita pada umumnya, kita bisa menebaknya pasti Will dan Atanakan bersatu. Tetapi paling tidak kita bisa melihat dari sisi psikologis bukan hanya dari sisi alurnya. Memang alurnya sederhana sebagaimana layaknya sebuah cerpen. Konflik dan klimaknya pun terkesan biasa saja dan cenderung ditata dengan kesengajaan. Kesengajaan menata alur dalam proses kreatif cipta sastra adalah hal yang ‘lumrah’ terjadi. Semua pengarang fiksi pasti akan memuat banyak sekali kesengajaan untuk menciptakan alur. Alur yang ditata dengan sengaja merupakan wujud proses kretaif yang bermula/berdasar pada khayalan/imajinasi belaka. Akan berbeda jika yang ditulis merupakan kisah atau pengalaman baik langsung maupun tidak langsung dari pangarang. Lepas dari semua hal yang diuraikan di atas, ada banyak hal lain yang seharusnya menjadi titik tolak kita berpikir, yaitu betapa hebat Rosandra berkreasi, bagaimana dengan diri kita? Nah!
Perubahan yang demikian cepat dan dramatis kadang membuat sebagian dari kita merasa tertinggal sangat jauh. Maka informasi dan komunikasi menjadi jawaban yang sangat tepat untuk mengatasi semua permasalahan tersebut. Bagaimanapun kita tidak mungkin bisa mengingkari setiap perubahan yang terjadi. Ayo semangat untuk ikut menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan generasi penerus Indonesia Emas
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Rabu, 15 Februari 2012
Jumat, 07 Mei 2010
Di Balik Glaomuritas
Sebuah perjuangan tanpa disertai dengan usaha yang gigih dan keras dapat diyakini tidak akan menghasilkan sebuah harapan sebagai yang dicita-citakan sebelumnya. Dunia glamouritas remaja dan pelajar dewasa ini tampaknya serba menuntut kebebasan. Sayangnya kebebasan ini tidak disertai dengan kedewasaan berpikir yang bertanggung jawab, walaupun itu hanya terhadap dirinya sendiri. Tapi di antara kebrengsekan dan keterpurukan moral yang menggejala di antara kehidupan remaja saat ini harus diakui bahwa sebenarnya terdapat banyak kelebihan yang dimiliki mereka. Kebobrokan dan kelebihan inilah yang sengaja dimunculkan oleh Hanung Bramantyo untuk memberikan imbangan terhadap kritik moral yang senantiasa ditujukan kepada para remaja dan pelajar dewasa ini.
Persabahatan dengan berbagai bentuk dan versi sering kita jumpai pada kehidupan remaja dan pelajar masa kini. Apapun bentuknya sudah seharusnya kita menghargai segala model dan kreativitas serta bentuk persahabatan mereka. Kisah tentang tiga orang sahabat Agni, Arian, Alde yang berusaha memunculkan eksistensi diri mereka harus banyak mengalami tantangan yang hampir membuat persabahatan mereka berantakan. Mereka tiga orang siswa sebuah SMA yang dianggap pecundang “CUPU” di sekolahnya. Mereka bertekad membuktikan eksistensi dan kualitas diri mereka dengan membuat film documenter sekolah. Film inilah yang mengubah nasib mereka menjadi “Pahlawan Sekolah” merekapun dielu-elukan oleh siswa lainnya. Dari mereka pulalah ternyata diketahui bahwa yang bobrok itu bukan para remaja dan pelajar sebagaimana yang dianggap banyak orang melainkan justru pihak orang dewasalah yang memiliki kebobrokan tingkat parah yang tersembunyi rapi. Sebuah harapan yang bisa kita munculkan dari film ini adalah keadilan dari orang dewasa untuk bersikap pada para remaja dan pelajar saat ini. Seharusnya ada kesadaran bahwa situasi dan kondisi sekarang berbeda dengan dahulu. Inilah yang membedakan antara generasi dahulu dan sekarang. Tapi disadari atau tidak sebenarnya antara dahulu dan sekarang tidak terlalu jauh berbeda, hanya masalah bentuk dan versi saja yang membedakannya. Justru dari para remaja dan pelajar inilah diketahui bagaimana kecurangan seorang pimpinan sekolah.
Kelihaian Hanung dalam hal ‘casting’ menjadikan film ini benar-benar mampu membuat penonton terpenuhi dan terbuai oleh sebuah ‘foreshadowing’ dan angan yang membumbung tinggi. Dengan kesempurnaan teknik penggarapannya Hanung berhasil menciptakan penggambaran dan visualisasi yang memikat. Hampir semua adegan mendapatkan perhatian sempurna dari Hanung, sehingga seakan tidak ada sedikit pun celah yang bisa membuat kita merasa bosan untuk mengikuti kelanjutan dari kisahan ini. Penggarapan setting psikis dalam film ini tampak benar-benar mendapatkan tempat yang lumayan menarik bagi penonton. Soundtrack dan background musik yang mengalun lembut, keras, dan penuh variasi benar-benar mampu membawa kita ke arah angan-angan yang membumbung sebaimana yang selalu dibayangkan oleh para remaja dan pelajar.
Lepas dari semua hal yang telah diuraikan di atas, tampaknya sebuah karya manusia tetap saja tidak bisa dilepaskan dari ketidaksempurnaan. Catatan Akhir Sekolah tidak saja menyajikan sesuatu yang bernilai moral tinggi, tetapi juga menyuguhkan suatu fenomena sosial yang bisa memberikan efek negatif secara psikologis kepada penonton, utamanya para remaja dan pelajar. Penggunaan setting fisik yang hanya di lingkungan kompleks komplek sekolah, mall, dan sedikit tempat lain menjadikan satu titik kejenuhan yang mempengaruhi psikologis penonton. Bagaimana pun bentuknya Catatan Akhir Sekolah adalah sebuah garapan yang penuh dengan keterbatasan sifat manusia.
Agus Harianto, S.Pd.
Turen, 23 September 2005
Persabahatan dengan berbagai bentuk dan versi sering kita jumpai pada kehidupan remaja dan pelajar masa kini. Apapun bentuknya sudah seharusnya kita menghargai segala model dan kreativitas serta bentuk persahabatan mereka. Kisah tentang tiga orang sahabat Agni, Arian, Alde yang berusaha memunculkan eksistensi diri mereka harus banyak mengalami tantangan yang hampir membuat persabahatan mereka berantakan. Mereka tiga orang siswa sebuah SMA yang dianggap pecundang “CUPU” di sekolahnya. Mereka bertekad membuktikan eksistensi dan kualitas diri mereka dengan membuat film documenter sekolah. Film inilah yang mengubah nasib mereka menjadi “Pahlawan Sekolah” merekapun dielu-elukan oleh siswa lainnya. Dari mereka pulalah ternyata diketahui bahwa yang bobrok itu bukan para remaja dan pelajar sebagaimana yang dianggap banyak orang melainkan justru pihak orang dewasalah yang memiliki kebobrokan tingkat parah yang tersembunyi rapi. Sebuah harapan yang bisa kita munculkan dari film ini adalah keadilan dari orang dewasa untuk bersikap pada para remaja dan pelajar saat ini. Seharusnya ada kesadaran bahwa situasi dan kondisi sekarang berbeda dengan dahulu. Inilah yang membedakan antara generasi dahulu dan sekarang. Tapi disadari atau tidak sebenarnya antara dahulu dan sekarang tidak terlalu jauh berbeda, hanya masalah bentuk dan versi saja yang membedakannya. Justru dari para remaja dan pelajar inilah diketahui bagaimana kecurangan seorang pimpinan sekolah.
Kelihaian Hanung dalam hal ‘casting’ menjadikan film ini benar-benar mampu membuat penonton terpenuhi dan terbuai oleh sebuah ‘foreshadowing’ dan angan yang membumbung tinggi. Dengan kesempurnaan teknik penggarapannya Hanung berhasil menciptakan penggambaran dan visualisasi yang memikat. Hampir semua adegan mendapatkan perhatian sempurna dari Hanung, sehingga seakan tidak ada sedikit pun celah yang bisa membuat kita merasa bosan untuk mengikuti kelanjutan dari kisahan ini. Penggarapan setting psikis dalam film ini tampak benar-benar mendapatkan tempat yang lumayan menarik bagi penonton. Soundtrack dan background musik yang mengalun lembut, keras, dan penuh variasi benar-benar mampu membawa kita ke arah angan-angan yang membumbung sebaimana yang selalu dibayangkan oleh para remaja dan pelajar.
Lepas dari semua hal yang telah diuraikan di atas, tampaknya sebuah karya manusia tetap saja tidak bisa dilepaskan dari ketidaksempurnaan. Catatan Akhir Sekolah tidak saja menyajikan sesuatu yang bernilai moral tinggi, tetapi juga menyuguhkan suatu fenomena sosial yang bisa memberikan efek negatif secara psikologis kepada penonton, utamanya para remaja dan pelajar. Penggunaan setting fisik yang hanya di lingkungan kompleks komplek sekolah, mall, dan sedikit tempat lain menjadikan satu titik kejenuhan yang mempengaruhi psikologis penonton. Bagaimana pun bentuknya Catatan Akhir Sekolah adalah sebuah garapan yang penuh dengan keterbatasan sifat manusia.
Agus Harianto, S.Pd.
Turen, 23 September 2005
Minggu, 30 Agustus 2009
Gaya Penceritaan dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata
ABSTRAK
Harianto, Agus. 2009. Gaya Penceritaan dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Islam Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Dyah Werdiningsih, M.Pd., (II) Dra. Mukaromah, M.Pd.
Kata-kata kunci: gaya penceritaan, novel, laskar pelangi, gaya bahasa, sudut pandang
Karya sastra merupakan perwujudan dan ekspresi pemikiran manusia yang mendeskripsikan kehidupan manusia dengan segala aspek kehidupannya. Perwujudan ekspresi pemikiran mansia tersebuta melalui tahapanyang cukup rumit yang disebut sebagai proses kreatif cipta sastra. Proses kreatif sastra merupakan salah satu hal penting yang menjadi bahan pemikiran ketika harus menganalisis sebuah karya sastra. Karya sastra berjenis puisi, prosa, dan drama merupakan hasil dari sebuah proses kreatif sastra. Suatu yang mustahil terjadi ketika tahap proses kreatif sastra terlampaui begitu saja dan tiba-tiba sudah terwujud sebuah hasil cipta sastra. Jika hal itu terjadi sudah bisa dipastikan bahwa karya sastra yang tercipta merupakan bentuk plagiat atau reproduksi dari sebuah karya sastra orang lain. Proses kreatif sastra bisa terwujud dengan benar jika melalui proses yang benar pula. Proses kreatif sastra bukan suatu hal yang sederhana, tetapi bukan suatu hal yang tidak bisa dilakukan. Bahkan orang yang awam dalam bidang sastra pun bisa melakukan sebuah proses kreatif sastra jika memang mau melakukannya.
Penelitian Gaya Penceritaan dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, merupakan analisis terhadap model gaya bahasa yang dipergunakan pengarang dan bentuk sudut pandang pengarang yang dipergunakan oleh Andrea Hirata. Terdapat dua masalah utama yang menjadi fokus dan sekaligus merupakan tujuan utama dalam penelitian ini, (1) bagaimanakah sudut pandang pengarang dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, dan (2) bagaimanakah gaya bahasa dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Data penelitian ini merupakan deskripsi penggunaan sudut pendang pengarang yang terdapat dalam 34 bab dalam novel Laskar Pelangi dan frase, klausa, atau kalimat yang terindikasi merupakan model penggunaan gaya bahasa tertentu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan peneliti bertindak sebagai instrumen inti penelitian. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan metode analisis isi (contens analysis) melalui observasi teks yang dilakukan dengan langkah-langkah (1) pengumpulan data, (2) klasifikasi data, (3) merumuskan hasil, (4) interpretasi data, dan (5) membuat ikhtisar hasil klasifikasi.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data, diperoleh simpulan dalam novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata mempergunakan sudut pandang campuran. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa walaupun secara umum dalam jumlah data paling banyak pengarang mempergunakan sudut pandang akuan, tetapi tetap terdapat sudut pandang diaan, yaitu diaan semestaan atau diaan serba tahu. Di samping itu juga perlu dicatat bahwa sudut pandang akuan yang dipergunakan pun ternyata terdiri atas berbagai wujud yaitu akuan sertaan dan akuan tak sertaan yang menggunakan tokoh aku (tunggal) dan kami (jamak).
Selanjutnya yang berhubungan dengan penggunaan gaya bahasa, dapat dikatakan pengarang mempunyai kepekaan rasa yang sangat tinggi dalam mempergunakan segala seluk beluk dan model-model gaya bahasa yang meliputi gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan. Gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam novel ini meliputi gaya bahasa perumpamaan/simile, metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori, pleonasme, perifrasis, antisipasi/prolepsis, dan koreksio/epanortosis. Gaya bahasa pertentangan dalam novel ini meliputi hiperbola, ironi, oksimoron, zeugma, paradoks, klimaks, antiklimaks, inversi, sinisme, dan sarkasme. Gaya bahasa pertautan dalam novel Laskar Pelangi meliputi metonimia, sinekdoke, alusi, eufemisme, eponim, erotesis, paralelisme, ellipsis, gradasi, asindeton, dan polisindeton. Dan gaya bahasa perulangan dalam novel ini meliputi anafora dan mesodilopsis. Gaya bahasa yang mempunyai frekuensi tinggi dipergunakan oleh pengarang adalah gaya bahasa perbandingan terutama pada jenis gaya bahasa perumpamaan, metafora, dan personifikasi.
Implementasi pembelajaran apresiasi sastra dalam bentuk analisis gaya penceritaan dalam sebuah karya sastra prosa baik yang berwujud cerpen maupun novel memberikan pengetahuan kepada para siswa tentang penggunaan sudut pandang dan gaya bahasa yang dipergunakan pengarang dalam proses kreatifnya. Siswa diharapkan mampu membuat analisis terhadap model sudut pandang dan gaya bahasa yang dipergunakan pengarang dalam karya cerpen atau novel. Selanjutnya pembelajaran apresiasi sastra adalah membawa siswa untuk mampu menghasilan sebuah karya sastra prosa walaupun masih sangat sederhana. Dalam kaitannya dengan pembelajaran apresiasi terhadap gaya penceritaan pengarang, setidaknya siswa bisa menentukan model sudut pandang dan gaya bahasa apakah yang hendak dipergunakannya dalam cipta sastranya. Siswa diajak untuk mencoba menuliskan kembali pengalaman pribadinya menjadi sebuah cerita pendek yang bisa dipublikasikan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan warna baru dalam pengembangan pembelajaran apresiasi sastra Indonesia di sekolah, khususnya gaya penceritaan dalam karya sastra prosa. Selain itu juga memperkaya wawasan kesastraan dalam bentuk kosa kata atau penggunaan ungkapan karena salah satu kelebihan dari novel Laskar Pelangi ditemukannya idiom-idiom yang merupakan bentuk penggunaan gaya bahasa unik dan menarik.
Harianto, Agus. 2009. Gaya Penceritaan dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Islam Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Dyah Werdiningsih, M.Pd., (II) Dra. Mukaromah, M.Pd.
Kata-kata kunci: gaya penceritaan, novel, laskar pelangi, gaya bahasa, sudut pandang
Karya sastra merupakan perwujudan dan ekspresi pemikiran manusia yang mendeskripsikan kehidupan manusia dengan segala aspek kehidupannya. Perwujudan ekspresi pemikiran mansia tersebuta melalui tahapanyang cukup rumit yang disebut sebagai proses kreatif cipta sastra. Proses kreatif sastra merupakan salah satu hal penting yang menjadi bahan pemikiran ketika harus menganalisis sebuah karya sastra. Karya sastra berjenis puisi, prosa, dan drama merupakan hasil dari sebuah proses kreatif sastra. Suatu yang mustahil terjadi ketika tahap proses kreatif sastra terlampaui begitu saja dan tiba-tiba sudah terwujud sebuah hasil cipta sastra. Jika hal itu terjadi sudah bisa dipastikan bahwa karya sastra yang tercipta merupakan bentuk plagiat atau reproduksi dari sebuah karya sastra orang lain. Proses kreatif sastra bisa terwujud dengan benar jika melalui proses yang benar pula. Proses kreatif sastra bukan suatu hal yang sederhana, tetapi bukan suatu hal yang tidak bisa dilakukan. Bahkan orang yang awam dalam bidang sastra pun bisa melakukan sebuah proses kreatif sastra jika memang mau melakukannya.
Penelitian Gaya Penceritaan dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, merupakan analisis terhadap model gaya bahasa yang dipergunakan pengarang dan bentuk sudut pandang pengarang yang dipergunakan oleh Andrea Hirata. Terdapat dua masalah utama yang menjadi fokus dan sekaligus merupakan tujuan utama dalam penelitian ini, (1) bagaimanakah sudut pandang pengarang dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, dan (2) bagaimanakah gaya bahasa dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Data penelitian ini merupakan deskripsi penggunaan sudut pendang pengarang yang terdapat dalam 34 bab dalam novel Laskar Pelangi dan frase, klausa, atau kalimat yang terindikasi merupakan model penggunaan gaya bahasa tertentu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan peneliti bertindak sebagai instrumen inti penelitian. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan metode analisis isi (contens analysis) melalui observasi teks yang dilakukan dengan langkah-langkah (1) pengumpulan data, (2) klasifikasi data, (3) merumuskan hasil, (4) interpretasi data, dan (5) membuat ikhtisar hasil klasifikasi.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data, diperoleh simpulan dalam novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata mempergunakan sudut pandang campuran. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa walaupun secara umum dalam jumlah data paling banyak pengarang mempergunakan sudut pandang akuan, tetapi tetap terdapat sudut pandang diaan, yaitu diaan semestaan atau diaan serba tahu. Di samping itu juga perlu dicatat bahwa sudut pandang akuan yang dipergunakan pun ternyata terdiri atas berbagai wujud yaitu akuan sertaan dan akuan tak sertaan yang menggunakan tokoh aku (tunggal) dan kami (jamak).
Selanjutnya yang berhubungan dengan penggunaan gaya bahasa, dapat dikatakan pengarang mempunyai kepekaan rasa yang sangat tinggi dalam mempergunakan segala seluk beluk dan model-model gaya bahasa yang meliputi gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan. Gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam novel ini meliputi gaya bahasa perumpamaan/simile, metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori, pleonasme, perifrasis, antisipasi/prolepsis, dan koreksio/epanortosis. Gaya bahasa pertentangan dalam novel ini meliputi hiperbola, ironi, oksimoron, zeugma, paradoks, klimaks, antiklimaks, inversi, sinisme, dan sarkasme. Gaya bahasa pertautan dalam novel Laskar Pelangi meliputi metonimia, sinekdoke, alusi, eufemisme, eponim, erotesis, paralelisme, ellipsis, gradasi, asindeton, dan polisindeton. Dan gaya bahasa perulangan dalam novel ini meliputi anafora dan mesodilopsis. Gaya bahasa yang mempunyai frekuensi tinggi dipergunakan oleh pengarang adalah gaya bahasa perbandingan terutama pada jenis gaya bahasa perumpamaan, metafora, dan personifikasi.
Implementasi pembelajaran apresiasi sastra dalam bentuk analisis gaya penceritaan dalam sebuah karya sastra prosa baik yang berwujud cerpen maupun novel memberikan pengetahuan kepada para siswa tentang penggunaan sudut pandang dan gaya bahasa yang dipergunakan pengarang dalam proses kreatifnya. Siswa diharapkan mampu membuat analisis terhadap model sudut pandang dan gaya bahasa yang dipergunakan pengarang dalam karya cerpen atau novel. Selanjutnya pembelajaran apresiasi sastra adalah membawa siswa untuk mampu menghasilan sebuah karya sastra prosa walaupun masih sangat sederhana. Dalam kaitannya dengan pembelajaran apresiasi terhadap gaya penceritaan pengarang, setidaknya siswa bisa menentukan model sudut pandang dan gaya bahasa apakah yang hendak dipergunakannya dalam cipta sastranya. Siswa diajak untuk mencoba menuliskan kembali pengalaman pribadinya menjadi sebuah cerita pendek yang bisa dipublikasikan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan warna baru dalam pengembangan pembelajaran apresiasi sastra Indonesia di sekolah, khususnya gaya penceritaan dalam karya sastra prosa. Selain itu juga memperkaya wawasan kesastraan dalam bentuk kosa kata atau penggunaan ungkapan karena salah satu kelebihan dari novel Laskar Pelangi ditemukannya idiom-idiom yang merupakan bentuk penggunaan gaya bahasa unik dan menarik.
Jumat, 05 Desember 2008
SEBUAH FENOMENA DARI SEORANG SAHABAT
Sekali lagi eksistensi sebuah persabahatan dipertaruhkan dalam sebuah perjalanan anak manusia. Kadang persabahatan merupakan sebuah tragedi komedi yang senantiasa membelenggu kehidupan semua orang yang ada dalam kosmos alam semesta ini. Mengapa kita harus bertaruh dengan tragedi komedi kehidupan yang selalu membersamai setiap langkah dalam panggung sandiwara dunia ini? Sementara kita mengetahui bahwa rahasia kosmos alam semesta yang demikian luas membuat di antara kita sering salah interpretasi. Menjadikan kita mengalami hal-hal yang kadang benar-benar di luar jangkuan pemikiran kita.
Gadis adalah seorang gadis yang mengalami tragedi psikologis dalam perjalanan hidupnya. Hampir semua orang yang disayanginya pergi meninggalkannya dalam wujud kematian. Kegoncangan psikologis terus menimpanya sampai hampir membuatnya mengalami traumatis dalam hubungan cintanya. Nuansa kekalutan psikis inilah yang diangkat oleh Rudi Soedjarwo dan Melly Goeslaw dalam kisah perjalan sepasang sahabat dan sepasang kekasih. Kekuatan moral yang muncul dalam garapan ini menjadikan suatu daya tarik yang mencuat ke permukaan. “Tentang Dia” memaparkan bagaimana persahabatan dan percintaan seakan menjadi sebuah dilematika yang rumit untuk dipecahkan. Menjadi sebuah tragedi komedi dalam kehidupan Gadis, Rudi, dan Randu. Kemarahan, kekalutan, rasa sayang, dan cinta berkolaborasi dengan indahnya dalam perjalanan hidup mereka. Siapa yang menyangka jika ternyata salah satu di antara mereka ternyata menyembunyikan penderitaan hidup yang demikian berat. Kepergian dan kerelaan untuk melepaskannya merupakan beban yang harus senantiasa siap kita hadapi.
Unsur glamouritas dalam garapan ini tidak menjadi unsur menonjol sebagaimana pada film-film lain terutama film remaja. Unsur kemewahan hanya menjadi latar cerita yang tidak dominan. Penggarapan setting dalam film ini cenderung menonjolkan suasana yang yang mampu membawa penonton ke arah kerinduan dan kesepian akan jati diri. Sisi penggarapan film ini tampak menekankan benar unsur suspense dan foreshadowing. Pembayangan yang terjadi dan dialami oleh penonton merupakan tujuan akhir dari penggarapan film ini. “Tentang Dia” seakan memberikan citraan (image) tentang bagaimana kita menjalani kehidupan ini. Gambaran yang menyampaikan bahwa bukan sekedar nilai material yang menjadi tujuan hidup kita, melainkan juga nilai-nilai lain yang bersifat nonfisik, seperti kebutuhan akan kasih sayang dan pengakuan orang lain akan jati diri kita.
Kelihaian Rudi dalam hal ‘casting’ menjadikan film ini benar-benar mampu menjadikan film ini sangat bernilai. Dengan kesempurnaan teknik penggarapannya Rudi berhasil menciptakan penggambaran dan visualisasi yang memikat. Hampir semua semua adegan digarap dengan penuh kejelian, sehingga seakan tidak ada sedikit pun celah yang bisa membuat kita merasa enggan untuk terus mengikuti konflik psikologis ini. Tetapi di antara kelebihan penggarapan tetap saja tidak bisa dilepaskan dari ketidaksempurnaan. “Tentang Dia” tidak saja menyajikan sesuatu yang bernilai moral tinggi, tetapi juga menyuguhkan suatu fenomena sosial yang bisa memberikan efek negatif secara psikologis kepada penonton. Bagaimana pun “Tentang Dia” telah mampu memberikan sesuatu yang lebih pada kita terutama tentang cara berpikir dan berindak secara dewasa.
Agus Harianto, S.Pd.
Gadis adalah seorang gadis yang mengalami tragedi psikologis dalam perjalanan hidupnya. Hampir semua orang yang disayanginya pergi meninggalkannya dalam wujud kematian. Kegoncangan psikologis terus menimpanya sampai hampir membuatnya mengalami traumatis dalam hubungan cintanya. Nuansa kekalutan psikis inilah yang diangkat oleh Rudi Soedjarwo dan Melly Goeslaw dalam kisah perjalan sepasang sahabat dan sepasang kekasih. Kekuatan moral yang muncul dalam garapan ini menjadikan suatu daya tarik yang mencuat ke permukaan. “Tentang Dia” memaparkan bagaimana persahabatan dan percintaan seakan menjadi sebuah dilematika yang rumit untuk dipecahkan. Menjadi sebuah tragedi komedi dalam kehidupan Gadis, Rudi, dan Randu. Kemarahan, kekalutan, rasa sayang, dan cinta berkolaborasi dengan indahnya dalam perjalanan hidup mereka. Siapa yang menyangka jika ternyata salah satu di antara mereka ternyata menyembunyikan penderitaan hidup yang demikian berat. Kepergian dan kerelaan untuk melepaskannya merupakan beban yang harus senantiasa siap kita hadapi.
Unsur glamouritas dalam garapan ini tidak menjadi unsur menonjol sebagaimana pada film-film lain terutama film remaja. Unsur kemewahan hanya menjadi latar cerita yang tidak dominan. Penggarapan setting dalam film ini cenderung menonjolkan suasana yang yang mampu membawa penonton ke arah kerinduan dan kesepian akan jati diri. Sisi penggarapan film ini tampak menekankan benar unsur suspense dan foreshadowing. Pembayangan yang terjadi dan dialami oleh penonton merupakan tujuan akhir dari penggarapan film ini. “Tentang Dia” seakan memberikan citraan (image) tentang bagaimana kita menjalani kehidupan ini. Gambaran yang menyampaikan bahwa bukan sekedar nilai material yang menjadi tujuan hidup kita, melainkan juga nilai-nilai lain yang bersifat nonfisik, seperti kebutuhan akan kasih sayang dan pengakuan orang lain akan jati diri kita.
Kelihaian Rudi dalam hal ‘casting’ menjadikan film ini benar-benar mampu menjadikan film ini sangat bernilai. Dengan kesempurnaan teknik penggarapannya Rudi berhasil menciptakan penggambaran dan visualisasi yang memikat. Hampir semua semua adegan digarap dengan penuh kejelian, sehingga seakan tidak ada sedikit pun celah yang bisa membuat kita merasa enggan untuk terus mengikuti konflik psikologis ini. Tetapi di antara kelebihan penggarapan tetap saja tidak bisa dilepaskan dari ketidaksempurnaan. “Tentang Dia” tidak saja menyajikan sesuatu yang bernilai moral tinggi, tetapi juga menyuguhkan suatu fenomena sosial yang bisa memberikan efek negatif secara psikologis kepada penonton. Bagaimana pun “Tentang Dia” telah mampu memberikan sesuatu yang lebih pada kita terutama tentang cara berpikir dan berindak secara dewasa.
Agus Harianto, S.Pd.
Langganan:
Postingan (Atom)