Kapankah matahari akan memeluk rembulan...
Di manakah rembulan tersenyum pada matahari...
Mengapa matahari menjadi salju ketika rembuan tersenyum...
Bagaimana laut sat melihat matahari mencium
rembulan...
Ketika rembulan tersenyum pada matahari,
matahari hanya dapat menatap dari cakrawala...
Sementara laut menyimpulkan kemenangan
Kadang matahari bimbang dengan panasnya
Masihkah bulan memantulkan cahayanya ke laut?
Kadang matahati menyesal dengan kuasanya
Mengapa harus dia bakar laut untuk menjadi hujan
Kadang rembulan pun pudar senyumnya
Dalam gemerlap matahari
Perubahan yang demikian cepat dan dramatis kadang membuat sebagian dari kita merasa tertinggal sangat jauh. Maka informasi dan komunikasi menjadi jawaban yang sangat tepat untuk mengatasi semua permasalahan tersebut. Bagaimanapun kita tidak mungkin bisa mengingkari setiap perubahan yang terjadi. Ayo semangat untuk ikut menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan generasi penerus Indonesia Emas
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Rabu, 15 Februari 2012
Sabtu, 12 November 2011
Ode Untuk Saudaraku
Untuk saudaraku yang baru kutemukan
Saudaraku
betapa lentera ini tersamar dalam pekat,
melata dalam lilitan senyap,
mendera setiap desah keletihan...
Saudaraku
betapa gundah ini menjadi duka dalam sepi,
merintih perih dalam jeritnya pilu,
menggelegak hampa meniti rindu
Saudaraku
ketika engkau datang,
ketika engkau merajut benang-benang sepi,
memudarkan senyap, meriaklah hampa
tercekatlah desah menjadi kata,
melahirkan desah menjadi untaian cerita.
Saudaraku
kini engkau ada dalam perjalanan
kini engkau harus meniti
meniti langkahmu karena jalanmu masih lama
di antara ada dan tiadanya imajinasi
engkau merindukan bintang, tapi hati-hatilah saudaraku..
karena yang datang bisa saja bukan bintang,
yang datang adalah gelombang angkara yang sangat menginginkanmu.
Saudaraku
sekarang adalah belasan tahun yang lalu
betapa indah hari ini
betapa rindu akan peluk dan indahnya tauhid
Betapa indahnya jika aku mampu mengucap bismillah
untuk saudaraku dalam perjalanan panjangmu.
Selamat berjuang saudaraku
Saudaraku
betapa lentera ini tersamar dalam pekat,
melata dalam lilitan senyap,
mendera setiap desah keletihan...
Saudaraku
betapa gundah ini menjadi duka dalam sepi,
merintih perih dalam jeritnya pilu,
menggelegak hampa meniti rindu
Saudaraku
ketika engkau datang,
ketika engkau merajut benang-benang sepi,
memudarkan senyap, meriaklah hampa
tercekatlah desah menjadi kata,
melahirkan desah menjadi untaian cerita.
Saudaraku
kini engkau ada dalam perjalanan
kini engkau harus meniti
meniti langkahmu karena jalanmu masih lama
di antara ada dan tiadanya imajinasi
engkau merindukan bintang, tapi hati-hatilah saudaraku..
karena yang datang bisa saja bukan bintang,
yang datang adalah gelombang angkara yang sangat menginginkanmu.
Saudaraku
sekarang adalah belasan tahun yang lalu
betapa indah hari ini
betapa rindu akan peluk dan indahnya tauhid
Betapa indahnya jika aku mampu mengucap bismillah
untuk saudaraku dalam perjalanan panjangmu.
Selamat berjuang saudaraku
Senin, 03 Oktober 2011
Homohominilupus
Kadang kita tak pernah ikhlas dengan rahmat-Nya, kadang kita tak pernah menerima takdir, kadang kita tak pernah puas dengan dahaga kita. Sehingga menjadikan kita semakin jelata dengan kepapaan dan kenistaan kita.
Aku ini semacam auman srigala bagi manusia lain
Aku mengaum laksana harimau rimba yang kelaparan
Ketika bisa kumakan segala yang ada di sekitarku
Maka kumakan apapun
Ya... termasuk betapa teganya kau sikat tandas bagian dari anak-anak tidak mampu
Seperti betapa butanya matamu melihat geliat kelaparan
Seperti rapuhnya telingamu mendegar geliat derita
Kau tahu bahwa sebenarnya mereka menggeliat
Sementara kau makan dengan taring-taring angkaramu.
Cukup... aku memang srigala dengan bulu-bulu sutera
Tapi betapa kau harus tahu bahwa aku memang srigala
Srigala memang predator
Kalau aku domba maka aku adalah pemakan rumput
Kau tahu aku adalah sistem
Kalau kau tahu kau adalah sistem
Kenapa kau tak keluar dari sistem itu
Kalau kau tahu kau adalah sistem
Kenapa tidak kau buat sistem itu adalah berjuta bentuk kasih sayang dan harapan
Tidak bisa... kau pun tahu
Aku adalah bagian dari sistem yang harus menghidupi bagian yang lain
Aku tahu, tapi aku lebih tahu lagi bahwa sebenarnya kaulah yang lebih dari sistem itu.
Kau adalah pencipta sistem itu
Kau homohomini lupus
Jadi kenapa tidak sekalian saja kau jadi rajanya
Ya Tuhan, betapa ini adalah sebuah bentuk perampokan
Ataukah sebuah bentuk kepiluan sosial
Ya Tuhan ataukah homohomini lupus memang akan menjadi karakter
Menjadi jati diri kami para khalifahmu di bumi ini
Ya...itu adalah sebuah bentuk perampokan sekaligus kepiluan sosial yang kau ciptakan
Tapi tidak ada yang tahu
Adalah sebuah kesengajaan ataukah ketidaksengajaan
Subhanallah, apa yang telah Engkau tetapkan pada diri kami Ya Tuhan
Adalah sebuah bentuk keindahan tauhid
Tapi kenapa kami tidak bisa melihat keindahan itu
Kenapa awan-awan hitam senantiasa melayang menutup mata estetika kami
Ya Robbana, kasih dan rahmat-Mu telah menghancurkan bentuk-bentuk kedholiman
Segala bentuk ridho-Mu telah mencerabut sendi-sendi keangkaraan.
Ya Robbana sinar dan pijar-pijar ketahuidan menjadi penyejuk
Seperti embun-embun di kala pagi.
Aku ini semacam auman srigala bagi manusia lain
Aku mengaum laksana harimau rimba yang kelaparan
Ketika bisa kumakan segala yang ada di sekitarku
Maka kumakan apapun
Ya... termasuk betapa teganya kau sikat tandas bagian dari anak-anak tidak mampu
Seperti betapa butanya matamu melihat geliat kelaparan
Seperti rapuhnya telingamu mendegar geliat derita
Kau tahu bahwa sebenarnya mereka menggeliat
Sementara kau makan dengan taring-taring angkaramu.
Cukup... aku memang srigala dengan bulu-bulu sutera
Tapi betapa kau harus tahu bahwa aku memang srigala
Srigala memang predator
Kalau aku domba maka aku adalah pemakan rumput
Kau tahu aku adalah sistem
Kalau kau tahu kau adalah sistem
Kenapa kau tak keluar dari sistem itu
Kalau kau tahu kau adalah sistem
Kenapa tidak kau buat sistem itu adalah berjuta bentuk kasih sayang dan harapan
Tidak bisa... kau pun tahu
Aku adalah bagian dari sistem yang harus menghidupi bagian yang lain
Aku tahu, tapi aku lebih tahu lagi bahwa sebenarnya kaulah yang lebih dari sistem itu.
Kau adalah pencipta sistem itu
Kau homohomini lupus
Jadi kenapa tidak sekalian saja kau jadi rajanya
Ya Tuhan, betapa ini adalah sebuah bentuk perampokan
Ataukah sebuah bentuk kepiluan sosial
Ya Tuhan ataukah homohomini lupus memang akan menjadi karakter
Menjadi jati diri kami para khalifahmu di bumi ini
Ya...itu adalah sebuah bentuk perampokan sekaligus kepiluan sosial yang kau ciptakan
Tapi tidak ada yang tahu
Adalah sebuah kesengajaan ataukah ketidaksengajaan
Subhanallah, apa yang telah Engkau tetapkan pada diri kami Ya Tuhan
Adalah sebuah bentuk keindahan tauhid
Tapi kenapa kami tidak bisa melihat keindahan itu
Kenapa awan-awan hitam senantiasa melayang menutup mata estetika kami
Ya Robbana, kasih dan rahmat-Mu telah menghancurkan bentuk-bentuk kedholiman
Segala bentuk ridho-Mu telah mencerabut sendi-sendi keangkaraan.
Ya Robbana sinar dan pijar-pijar ketahuidan menjadi penyejuk
Seperti embun-embun di kala pagi.
Senin, 22 November 2010
Ode untuk Guruku
Sekuntum Cinta untuk Guruku
Kadang kami duduk di atas ketinggian
Untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu
Yang begitu kuat berteriak dalam aliran napas ini
Kadang kami berlari di atas pematang
Untuk sekedar mencari kebenaran atas cinta
Akan orang-orang yang berjalan di atas sajadah cinta
Suatu kali pernah kuukir sebait tembang karena keagungan
Suatu kali pernah kutulis syair kelembutan demi tetes-tetes keikhlasan
Yang tiada pernah terkikis dari raut wajah yang demikian teduh
Saudaraku…
Kini perkenankan aku meriwayatkan seberkas kisah perjalanan
Tentang orang-orang paling berjasa dalam hidup ini
Suatu hari aku mendengar kisah tentang seorang ibu guru yang tersenyum
Ketika mendengar kabar sukses para siswanya
Suatu hari aku mendengar kisah tentang seorang bapak guru yang marah
Ketika melihat betapa rendahnya perbuatan kami
Suatu saat aku mendengar kisah betapa memilukan seorang ibu guru yang menyayat hati
Ketika seorang anak didiknya menghujat dengan kata-kata tajam
Wajah guruku adalah beribu karakter anak-anaknya
Wajah guruku adalah semua wajah kami anak didiknya
Wajah guruku adalah air danau yang menampung segala kisah
Adalah kolam maha luas yang senantiasa memberikan pelepas dahaga anak-anaknya
Aku tahu bahwa segala duka dan segala suka berkecamuk menjadi santapan kesehariannya
Tidak pernah ada keluh walau marah sekalipun
Karena kemarahan hanya ada pada permukaan bukan pada hati
Bapak…Ibu
Dalam hati ini ada sekuntum rindu manakala mengingat betapa luhur dirimu
Betapa dalam keinginan untuk sekedar meredakan gejolak rindu dalam diri
Akan segala duka
Akan segala suka
Selama ini kami tidak pernah menyadari betapa benar apa yang telah engkau sampaikan
Kami tahu tapi pura-pura tidak tahu karena egoisme
Kami paham tapi angkara membawa kebenaran itu
Seakan tidak pernah ada kebenaran yang engkau bawa
Sekarang tatkala kami telah mulai membuka hati
Kami tahu tiada setitik pun dari sabdamu berupa nila
Setiap kata dan desah napasmu adalah tuntunan hidup bagi kami anak-anakmu
Ketika kami buta
Ketika kami tuli
Ketika kami telanjang
Engkau datang membawa pelita
Membakar bara yang masih tidur dalam kemalasan
Maka betapa ingin rindu ini terbalas dengan bentuk peluk dan restumu
Saudaraku…
Pada saat yang lain aku pernah medengar sebuah kisah tentang betapa berat hidup guru kita
Etika dan estetika yang selalu menjadi kembang napasnya
Seberkas pengetahuan yang senantiasa menjadi pencerah semua insan
Kadang hanya berbalas caci maki tanpa rasa
Kadang membersit lara tiada terobat ketika segala pengorbanan tiada berarti
Ketika gelar pahlawan tanpa tanda jasa benar-benar tak lagi memberikan arti
Memang perbaikan demi perbaikan kesejahteraan terus terupayakan
Tetapi mana pernah akan berarti jika senantiasa terdholimi
Saudaraku…
Betapa banyak Bapak/Ibu guru kita yang benar-benar berjuang melawan nasib
Betapa berat perjuangan mereka melawan kedholiman
Kita lihat pemotongan gaji dan tunjangan yang tidak manusiawi
Aku bisa dengar betapa sebenarnya hati kecil mereka berteriak
Tapi tiada kuat melawan air besar beriak
Dan betapa betapa luar biasa tuntutan sistem
Untuk sekedar mendapatkan tambahan tunjangan
Tiada senyum dan kemudahan pelayanan
Tapi guruku harus merelakan senyumya setiap saat
Mendermakan senyumnya dengan hati tercekat
Sementera aliran darahnya seakan terkerat
Tetapi akupun mendengar ketika guruku melompati batas hari
Ketika guruku mengejar kompetensi dan kualitas diri
Ketika guruku menciptakan banyak sekali karya prestasi
Ketika guruku membawa prestise dan prestasi kami anak-anak negeri
Maka kami anak-anakmu tiada pernah menutup mata dan hati
Kami tahu kepada siapa kami diskusi
Manakala kami harus meneladani jejak prestasi
Kami bangga padamu wahai Bapak dan Ibu
Sekarang memang belum mengerti apa-apa tentang dunia
Tapi sekarang kam akan mengerti apa-apa karena dunia
Tapi engkaulah yang paling mengerti apa-apa
Maka padamulah wahai Bapak dan Ibu
Kami datang dengan cinta yang hanya sekuntum
Kami datang dengan segala ratapan dan kehausan
Dan kami akan menimba di sumurmu yang tiada pernah berdasar
Terima kasih guruku.
Kadang kami duduk di atas ketinggian
Untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu
Yang begitu kuat berteriak dalam aliran napas ini
Kadang kami berlari di atas pematang
Untuk sekedar mencari kebenaran atas cinta
Akan orang-orang yang berjalan di atas sajadah cinta
Suatu kali pernah kuukir sebait tembang karena keagungan
Suatu kali pernah kutulis syair kelembutan demi tetes-tetes keikhlasan
Yang tiada pernah terkikis dari raut wajah yang demikian teduh
Saudaraku…
Kini perkenankan aku meriwayatkan seberkas kisah perjalanan
Tentang orang-orang paling berjasa dalam hidup ini
Suatu hari aku mendengar kisah tentang seorang ibu guru yang tersenyum
Ketika mendengar kabar sukses para siswanya
Suatu hari aku mendengar kisah tentang seorang bapak guru yang marah
Ketika melihat betapa rendahnya perbuatan kami
Suatu saat aku mendengar kisah betapa memilukan seorang ibu guru yang menyayat hati
Ketika seorang anak didiknya menghujat dengan kata-kata tajam
Wajah guruku adalah beribu karakter anak-anaknya
Wajah guruku adalah semua wajah kami anak didiknya
Wajah guruku adalah air danau yang menampung segala kisah
Adalah kolam maha luas yang senantiasa memberikan pelepas dahaga anak-anaknya
Aku tahu bahwa segala duka dan segala suka berkecamuk menjadi santapan kesehariannya
Tidak pernah ada keluh walau marah sekalipun
Karena kemarahan hanya ada pada permukaan bukan pada hati
Bapak…Ibu
Dalam hati ini ada sekuntum rindu manakala mengingat betapa luhur dirimu
Betapa dalam keinginan untuk sekedar meredakan gejolak rindu dalam diri
Akan segala duka
Akan segala suka
Selama ini kami tidak pernah menyadari betapa benar apa yang telah engkau sampaikan
Kami tahu tapi pura-pura tidak tahu karena egoisme
Kami paham tapi angkara membawa kebenaran itu
Seakan tidak pernah ada kebenaran yang engkau bawa
Sekarang tatkala kami telah mulai membuka hati
Kami tahu tiada setitik pun dari sabdamu berupa nila
Setiap kata dan desah napasmu adalah tuntunan hidup bagi kami anak-anakmu
Ketika kami buta
Ketika kami tuli
Ketika kami telanjang
Engkau datang membawa pelita
Membakar bara yang masih tidur dalam kemalasan
Maka betapa ingin rindu ini terbalas dengan bentuk peluk dan restumu
Saudaraku…
Pada saat yang lain aku pernah medengar sebuah kisah tentang betapa berat hidup guru kita
Etika dan estetika yang selalu menjadi kembang napasnya
Seberkas pengetahuan yang senantiasa menjadi pencerah semua insan
Kadang hanya berbalas caci maki tanpa rasa
Kadang membersit lara tiada terobat ketika segala pengorbanan tiada berarti
Ketika gelar pahlawan tanpa tanda jasa benar-benar tak lagi memberikan arti
Memang perbaikan demi perbaikan kesejahteraan terus terupayakan
Tetapi mana pernah akan berarti jika senantiasa terdholimi
Saudaraku…
Betapa banyak Bapak/Ibu guru kita yang benar-benar berjuang melawan nasib
Betapa berat perjuangan mereka melawan kedholiman
Kita lihat pemotongan gaji dan tunjangan yang tidak manusiawi
Aku bisa dengar betapa sebenarnya hati kecil mereka berteriak
Tapi tiada kuat melawan air besar beriak
Dan betapa betapa luar biasa tuntutan sistem
Untuk sekedar mendapatkan tambahan tunjangan
Tiada senyum dan kemudahan pelayanan
Tapi guruku harus merelakan senyumya setiap saat
Mendermakan senyumnya dengan hati tercekat
Sementera aliran darahnya seakan terkerat
Tetapi akupun mendengar ketika guruku melompati batas hari
Ketika guruku mengejar kompetensi dan kualitas diri
Ketika guruku menciptakan banyak sekali karya prestasi
Ketika guruku membawa prestise dan prestasi kami anak-anak negeri
Maka kami anak-anakmu tiada pernah menutup mata dan hati
Kami tahu kepada siapa kami diskusi
Manakala kami harus meneladani jejak prestasi
Kami bangga padamu wahai Bapak dan Ibu
Sekarang memang belum mengerti apa-apa tentang dunia
Tapi sekarang kam akan mengerti apa-apa karena dunia
Tapi engkaulah yang paling mengerti apa-apa
Maka padamulah wahai Bapak dan Ibu
Kami datang dengan cinta yang hanya sekuntum
Kami datang dengan segala ratapan dan kehausan
Dan kami akan menimba di sumurmu yang tiada pernah berdasar
Terima kasih guruku.
Rabu, 08 April 2009
DAMBA
Kawan, ketika meleleh keringat ini dari seluas hatiku
selamanya masih teringat kata dan syahdumu
betapa kau jauh dari haribaan
selamanya kau tak terlupakan
Kawan, ketika menjerit puluhan kata dalam sesalku
ketika itu kau lagukan ratusan maafmu
betapa kau tinggi di langit Tuhan
selamanya tiada sulit bagi dambaan
Kawan, suatu hari kucoba mengkhayalkan kata
kapan ada kebersamaan dalam suka
dalam hamparan dan luasan kabut sutra ungu
menyatukan serpihan perca mengalunkan lagu
Kawan, seperti kerasnya batu rapuh dengan malam
tiada jua kerasnya diri tanpa kelam
aku ada di antara batu-batu hitam
tiada celah mengintai indahnya kalam
Kawan, kalau boleh aku mencerca duka
tak lagi ada kata bisa kupilih
kalau damba tak lagi memihak hamba
serasa dendam tiada mempunyai dalih
Kawan, kini celah tinggal kemerlip dupa
tapi aku masih memeluk luka
biar nanti kupejamkan matahari
biar dupa menerangi hari
Kawan, boleh aku bertanya aka nada dan tiada
jika ada kau di antara semua ketiadaan
maka dupa menjadi matahari
maka malam pun menjadi hari
Kawan, aku masih mendamba.
Agus Harianto
selamanya masih teringat kata dan syahdumu
betapa kau jauh dari haribaan
selamanya kau tak terlupakan
Kawan, ketika menjerit puluhan kata dalam sesalku
ketika itu kau lagukan ratusan maafmu
betapa kau tinggi di langit Tuhan
selamanya tiada sulit bagi dambaan
Kawan, suatu hari kucoba mengkhayalkan kata
kapan ada kebersamaan dalam suka
dalam hamparan dan luasan kabut sutra ungu
menyatukan serpihan perca mengalunkan lagu
Kawan, seperti kerasnya batu rapuh dengan malam
tiada jua kerasnya diri tanpa kelam
aku ada di antara batu-batu hitam
tiada celah mengintai indahnya kalam
Kawan, kalau boleh aku mencerca duka
tak lagi ada kata bisa kupilih
kalau damba tak lagi memihak hamba
serasa dendam tiada mempunyai dalih
Kawan, kini celah tinggal kemerlip dupa
tapi aku masih memeluk luka
biar nanti kupejamkan matahari
biar dupa menerangi hari
Kawan, boleh aku bertanya aka nada dan tiada
jika ada kau di antara semua ketiadaan
maka dupa menjadi matahari
maka malam pun menjadi hari
Kawan, aku masih mendamba.
Agus Harianto
Kamis, 08 Januari 2009
Dan Medung Masih Tersenyum
Dan Medung Masih Tersenyum
Mendung putih tersenyum pada matahari
Dia menyapa Sang Terik dengan tetasan air matanya
Seakan memberi kesejukan pada kelelahan
Tapi kesejukan menjelma menjadi banjir
Mendung melanda seluruh kota denga tsunami
Mendung membawa berantakan tata laksana
:ekonomi
pemerintahan
dan menciptakan segumpal sesak yang tiada pernah cair
oleh panas matahari
di kota ribuan terendam
di kota jutaan menarik panjang napasnya
di kota tak terhitung lambang glamouritas mangkarak di jalan
dan boulevard-boulevard.
Mendung putih masih tersenyum pada matahari
Dia sapa Sang Terik dengan banjir di bantaran sungai
Teriak dan tangis tak bernada
Bagai gitar tak berdawai retak tertimpa teratak rumah
di desa puluhan hektar padi tenggelam
di desa jutaan napas menunggu reda gerimis
di desa anak-anak sekolah libur
karena jalan sangat licin
dan orang tua khawatir pada anaknya
Dan mendung masih menyapa matahari.
Mendung putih tersenyum pada matahari
Dia menyapa Sang Terik dengan tetasan air matanya
Seakan memberi kesejukan pada kelelahan
Tapi kesejukan menjelma menjadi banjir
Mendung melanda seluruh kota denga tsunami
Mendung membawa berantakan tata laksana
:ekonomi
pemerintahan
dan menciptakan segumpal sesak yang tiada pernah cair
oleh panas matahari
di kota ribuan terendam
di kota jutaan menarik panjang napasnya
di kota tak terhitung lambang glamouritas mangkarak di jalan
dan boulevard-boulevard.
Mendung putih masih tersenyum pada matahari
Dia sapa Sang Terik dengan banjir di bantaran sungai
Teriak dan tangis tak bernada
Bagai gitar tak berdawai retak tertimpa teratak rumah
di desa puluhan hektar padi tenggelam
di desa jutaan napas menunggu reda gerimis
di desa anak-anak sekolah libur
karena jalan sangat licin
dan orang tua khawatir pada anaknya
Dan mendung masih menyapa matahari.
KETIKA KABUT BERNAPAS
Ketika kabut mulai bernapas dengan pekatnya
Ketika tersenyum awan kepada langit yang melekat pada bumi
Sebongkah gumpalan hati bertanya pada senja:
Hai senja mengapa kau tergesa datang
Sementara hujan belum lagi reda
Hai senja janganlah kau keburu merebut kekuasaan siang
Belum semua nafas kuhirup, belum semua debu kutiup
Ingin kulempar kau agar tiada pernah datang
Ingin kugampar senja karena terlalu cepat kau hadir
Senja menjawab dengan tersenyum:
Wahai yang menyebut diri aku,
Akulah senja yang tiada mungkin kau tentang
Datangku adalah takdir
Maka mengapa kau harus mencaci?
Kutelan jawaban senja
Kugali dalam dan kutanam dia di sana
Tak ingin kulihat senja
Sebelum usai semua inginku
Ketika tersenyum awan kepada langit yang melekat pada bumi
Sebongkah gumpalan hati bertanya pada senja:
Hai senja mengapa kau tergesa datang
Sementara hujan belum lagi reda
Hai senja janganlah kau keburu merebut kekuasaan siang
Belum semua nafas kuhirup, belum semua debu kutiup
Ingin kulempar kau agar tiada pernah datang
Ingin kugampar senja karena terlalu cepat kau hadir
Senja menjawab dengan tersenyum:
Wahai yang menyebut diri aku,
Akulah senja yang tiada mungkin kau tentang
Datangku adalah takdir
Maka mengapa kau harus mencaci?
Kutelan jawaban senja
Kugali dalam dan kutanam dia di sana
Tak ingin kulihat senja
Sebelum usai semua inginku
KUPAGUT HATI-HATI
KUPAGUT HATI-HATI
Kupagut hati-hati
Seperti rembulan kala purnama, seperti
surya kala berkuasa,
Kupagut hati-hati, sebuah hati
Kurajut indah sekuntum pelangi
Di bawah mendung aku manari
Menapak awan, memacu kuda,
Kudaku lari kupacu kencang
Menuju harapan di lubuk dalam,
seperti awan berlomba dengan hujan
Engkau:
dewi penebar pelangi
Engkau:
kupu-kupu pemilik kumbang
Engkau:
Harapan di lubuk dalam
Kupacu kudaku menuju pelangi,
Pemilik kembang di dalam lubuk.
(Untuk: Sahabatku)
Kupagut hati-hati
Seperti rembulan kala purnama, seperti
surya kala berkuasa,
Kupagut hati-hati, sebuah hati
Kurajut indah sekuntum pelangi
Di bawah mendung aku manari
Menapak awan, memacu kuda,
Kudaku lari kupacu kencang
Menuju harapan di lubuk dalam,
seperti awan berlomba dengan hujan
Engkau:
dewi penebar pelangi
Engkau:
kupu-kupu pemilik kumbang
Engkau:
Harapan di lubuk dalam
Kupacu kudaku menuju pelangi,
Pemilik kembang di dalam lubuk.
(Untuk: Sahabatku)
Selasa, 09 Desember 2008
PEREMPUAN-PEREMPUAN DI KEBUN TEBU
Rintihan daun tebu lepas dari batangnya
Larut dalam bincang, canda, dan tawa
Tak ada risih
Ketika telapak tangan harus merenggut daun-daun tua kasar
Tidak ada rasa perih
Ketika telapak kaki menginjak batu dan duri tajam
Suara mereka menjauh untuk kemudian datang lagi dan terus menjauh
Ditelan luasnya hutan tebu.
Luka gores daun tebu adalah biasa bagi mereka
Mungkin menjadi gelitikan lucu
Tak pernah tersirat sebuah ambisi
Tak pernah tergoda oleh cita-cita
Mengalir seperti air
Mengalun seperti angin
Menjadi perempuan-perempuan di kebun tebu tiada tersiksa oleh damba
Yang ada adalah simponi bersama daun daun tebu
Agus Harianto, S.Pd.
Larut dalam bincang, canda, dan tawa
Tak ada risih
Ketika telapak tangan harus merenggut daun-daun tua kasar
Tidak ada rasa perih
Ketika telapak kaki menginjak batu dan duri tajam
Suara mereka menjauh untuk kemudian datang lagi dan terus menjauh
Ditelan luasnya hutan tebu.
Luka gores daun tebu adalah biasa bagi mereka
Mungkin menjadi gelitikan lucu
Tak pernah tersirat sebuah ambisi
Tak pernah tergoda oleh cita-cita
Mengalir seperti air
Mengalun seperti angin
Menjadi perempuan-perempuan di kebun tebu tiada tersiksa oleh damba
Yang ada adalah simponi bersama daun daun tebu
Agus Harianto, S.Pd.
PESAN SANG MIEPRA UNTUK PARA WISUDAWAN
Anakku, aku pernah berjalan sepanjang waktu, hari, bulan , dan tahun.
Anakku, kalau diibaratkan aku pernah berkelana ke semua benua untuk mencari jati diri yang tiada pernah kumengerti.
Anakku, semua sisi kehidupan sebagai seorang remaja sudah kulalui, semua sisi kehidupan sebagai sosok seorang pemuda pelajar yang mempunyai idealisme tinggi sudah pernah aku tempuh.
Aku mencoba menghadirkan semua sisi dalam diriku
Aku telah mengetahui di mana lubang-lubang hidupku yang merupakan kelemahanku sebagai seorang yang harus memikul beban beratnya kehidupan.
Semua orang tentu telah mengetahui betapa keras dan kejamnya kehidupan ini. Betapa rumit kehidupan yang harus kita jalani.
Kadang kita harus bergelut dengan kejamnya dilema sosial, budaya, dan sebangsanya.
Dan kadang kita harus merelakan diri kita untuk menjadi seorang pecundang. Tapi mengapa harus menjadi seorang pecundang?
Sebab kita tidak pernah merasa siap untuk hidup dalam dunia yang penuh dengan sandiwara ini.
Anakku, aku ayahmu, ibumu, gurumu adalah figur yang bisa kau baca.
Bacalah dengan segenap hatimu, agar kami menjadi cermin dalam hidupmu.
Kini sebelum aku melepasmu maka renungkankanlah semua suka dan duka kebersamaan kita.
Janganlah pernah kembali sebelum mendung memudar berganti matahari yang menerangi siang atau bulan yang menerangi malam.
Janganlah pernah membawa keraguan dalam setiap langkahmu, karena keraguan dlam melangkah akan membawa kehancuran dalam hidupmu.
Terjanglah segala kendala dan seretlah sebatas kau bisa, maka kau akanmemeperoleh semua sukses.
Ingatlah bahwa kita harus menggantungkan cita-cita setinggi langit untuk kemudian meraihnya.
Janganlah kalian bermimpi bahwa sukses akan datang dengan sendirinya, tapi sukses harus kalian kejar, kalian usahakan dengan segala daya dan upaya, dengan segala kerja keras.
Anak-anakku, adalah paling penting dalam hidup, bahwa manusia harus selalu ingat dengan asal-usulnya, ingat dengan kodrat kita sebagai makhluk Sang Khalik, selalu ingat dengan siapa yang telah menjadikannya dewasa, berilmu dan berpengetahuan…. Ya adalah guru dan orang tua.
Kini sudah saatnya kalian meniti langkah yang lebih jauh ke depan, kejarlah, raihlah cita dan asamu.
Segala doa selalu memberami langkahmu.
Selamat jalan anakku.
Agus Harianto, S.Pd.
Anakku, kalau diibaratkan aku pernah berkelana ke semua benua untuk mencari jati diri yang tiada pernah kumengerti.
Anakku, semua sisi kehidupan sebagai seorang remaja sudah kulalui, semua sisi kehidupan sebagai sosok seorang pemuda pelajar yang mempunyai idealisme tinggi sudah pernah aku tempuh.
Aku mencoba menghadirkan semua sisi dalam diriku
Aku telah mengetahui di mana lubang-lubang hidupku yang merupakan kelemahanku sebagai seorang yang harus memikul beban beratnya kehidupan.
Semua orang tentu telah mengetahui betapa keras dan kejamnya kehidupan ini. Betapa rumit kehidupan yang harus kita jalani.
Kadang kita harus bergelut dengan kejamnya dilema sosial, budaya, dan sebangsanya.
Dan kadang kita harus merelakan diri kita untuk menjadi seorang pecundang. Tapi mengapa harus menjadi seorang pecundang?
Sebab kita tidak pernah merasa siap untuk hidup dalam dunia yang penuh dengan sandiwara ini.
Anakku, aku ayahmu, ibumu, gurumu adalah figur yang bisa kau baca.
Bacalah dengan segenap hatimu, agar kami menjadi cermin dalam hidupmu.
Kini sebelum aku melepasmu maka renungkankanlah semua suka dan duka kebersamaan kita.
Janganlah pernah kembali sebelum mendung memudar berganti matahari yang menerangi siang atau bulan yang menerangi malam.
Janganlah pernah membawa keraguan dalam setiap langkahmu, karena keraguan dlam melangkah akan membawa kehancuran dalam hidupmu.
Terjanglah segala kendala dan seretlah sebatas kau bisa, maka kau akanmemeperoleh semua sukses.
Ingatlah bahwa kita harus menggantungkan cita-cita setinggi langit untuk kemudian meraihnya.
Janganlah kalian bermimpi bahwa sukses akan datang dengan sendirinya, tapi sukses harus kalian kejar, kalian usahakan dengan segala daya dan upaya, dengan segala kerja keras.
Anak-anakku, adalah paling penting dalam hidup, bahwa manusia harus selalu ingat dengan asal-usulnya, ingat dengan kodrat kita sebagai makhluk Sang Khalik, selalu ingat dengan siapa yang telah menjadikannya dewasa, berilmu dan berpengetahuan…. Ya adalah guru dan orang tua.
Kini sudah saatnya kalian meniti langkah yang lebih jauh ke depan, kejarlah, raihlah cita dan asamu.
Segala doa selalu memberami langkahmu.
Selamat jalan anakku.
Agus Harianto, S.Pd.
KEPADA WISUDAWAN
Seperti turunnya Sang Dewandaru
Semerbak mewangi memenuhi pradangga keagungan
Seperti gemuruhnya hujan sewindu
Derap para wisudawan yang agung
Menderap, menderu siap meniti langkah
Merenda cita demi kejayaan masa depan
Mereka menatap imajinasi sang maya
Dengan kerendahan hati, dengan kesentosaan berpikir
Mereka wujudkan impian dalam kenyataan
Siswa Wredha Wisuda adalah wujud nyata jati diri para pemuda pelajar yang berdedikasi, adalah tumpuan cita, etika, dan estetika menuju tercapainya sebuah asa
Maka manakala sang wisudawan telah menapakkan langkah
Manakala telah mengejawantah para bathara di kerajaan langit
Wahai para wisudawan selamat jalan
Dan selamatlah asa-asamu, sukseslah harapan kami selamat jalan ananda.
Kalau halilintar mampu menciptakan keagungan mayapada
Kalau sepotong harapan masih bersama asa-asa kesucian
Maka derap dan langkah mereka senantiasa meluluhkan….
Meluluhkan benteng keangkaraan…
Meleburkan segala anasir kehidupan dalam cipta abadi Sang Laku
Demikianlah gambaran Sang Wisudawan
Wahai para wisudawan
Kami adalah ibarat saudara tuamu, maka dengarkanlah apa yang patut
Camkan apa yang perlu…
Haruslah kau berkarya, berprestasi, dan berprestise tinggi
Seperti awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Seperti asap kepada api yang menjadiknanya sirna
Jadilah kalian semua pelajar yang tatag, terampil, trengginas, dan tanggon
Dalam menghadapi bebaya dan cobaan
Akhirnya selamatlah asa-asamu
Sukseslah harapan kami
Selamat jalan wahai ananda tercinta.
Siswa wreda wisuda
Adalah wujud nyata jati diri wisudawan untuk merealisasikan dan mengejawantahkan ilmu, pengetahuan, agama dan budaya.
Menunjukkan citra dan cita pelajara yang berdedikasi tinggi
Ikhklas bakti bina bangsa berbudi bawa laksana
Siswa wreda wisuda
Seperti menyatunya langit dan bumi memanivestasikan imajinasi Sang Maya..
Derap Sang Winisuda Jumeneng Senopati, maka seperti itulah citraan keberhasilan Sang Wisudawan.
Seribu tabir-tabir kesulitan dan kemudahan telah terkuak,
Sekuntum asa dan harapan kini mulai tergenggam.
Selamat datang para wisudawan
Selamat dan sukses ananda tercinta.
Agus Harianto, S.Pd.
Semerbak mewangi memenuhi pradangga keagungan
Seperti gemuruhnya hujan sewindu
Derap para wisudawan yang agung
Menderap, menderu siap meniti langkah
Merenda cita demi kejayaan masa depan
Mereka menatap imajinasi sang maya
Dengan kerendahan hati, dengan kesentosaan berpikir
Mereka wujudkan impian dalam kenyataan
Siswa Wredha Wisuda adalah wujud nyata jati diri para pemuda pelajar yang berdedikasi, adalah tumpuan cita, etika, dan estetika menuju tercapainya sebuah asa
Maka manakala sang wisudawan telah menapakkan langkah
Manakala telah mengejawantah para bathara di kerajaan langit
Wahai para wisudawan selamat jalan
Dan selamatlah asa-asamu, sukseslah harapan kami selamat jalan ananda.
Kalau halilintar mampu menciptakan keagungan mayapada
Kalau sepotong harapan masih bersama asa-asa kesucian
Maka derap dan langkah mereka senantiasa meluluhkan….
Meluluhkan benteng keangkaraan…
Meleburkan segala anasir kehidupan dalam cipta abadi Sang Laku
Demikianlah gambaran Sang Wisudawan
Wahai para wisudawan
Kami adalah ibarat saudara tuamu, maka dengarkanlah apa yang patut
Camkan apa yang perlu…
Haruslah kau berkarya, berprestasi, dan berprestise tinggi
Seperti awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Seperti asap kepada api yang menjadiknanya sirna
Jadilah kalian semua pelajar yang tatag, terampil, trengginas, dan tanggon
Dalam menghadapi bebaya dan cobaan
Akhirnya selamatlah asa-asamu
Sukseslah harapan kami
Selamat jalan wahai ananda tercinta.
Siswa wreda wisuda
Adalah wujud nyata jati diri wisudawan untuk merealisasikan dan mengejawantahkan ilmu, pengetahuan, agama dan budaya.
Menunjukkan citra dan cita pelajara yang berdedikasi tinggi
Ikhklas bakti bina bangsa berbudi bawa laksana
Siswa wreda wisuda
Seperti menyatunya langit dan bumi memanivestasikan imajinasi Sang Maya..
Derap Sang Winisuda Jumeneng Senopati, maka seperti itulah citraan keberhasilan Sang Wisudawan.
Seribu tabir-tabir kesulitan dan kemudahan telah terkuak,
Sekuntum asa dan harapan kini mulai tergenggam.
Selamat datang para wisudawan
Selamat dan sukses ananda tercinta.
Agus Harianto, S.Pd.
KEPADA SAUDARAKU: MAS YANTO
Ketika kubaca suratmu yang bagaikan alunan simponi
Seakan melayang hati ini untuk menjumpai melodi
Teringat saat bersama kita merintis jalan menyemai seni
Berjuta gerak dan pandang, berlaksa kata telah teruntai
Berjuta cita menjadi kebersamaan yang suci
Saudaraku, betapa hati ini menjadi sayatan seribu duri
Betapa diri ini seakan seorang pendosa yang lupa diri
Betapa aku ini telah menjadi seorang yang tak tahu diri
Betapa lama ‘tlah kulupa semua sahabat sejati
Tiba-tiba datang supucuk rindu seuntai bahagia hati
Dari Saudaraku yang dipenuhi dengan peduli
Akan arti seorang sahabat yang begitu menjadi berarti
Terima kasih kasih Saudaraku, ‘tlah aku bangkitkan hati ini
Dari tidur panjang dan lupa yang melilit jati diri
Aku memang masih terus mencari jati diri
Entah kapan kau dapatkan kebenaran sejati
Kepada bumu telah kuletakkan dahiku
Kepada langit telah kutadahkan tanganku
Kepada Tuhan telah kusembahkan sujud dan syukurku
Kini aku datang padamu Saudaraku
Dalam suka citamu, dalam bahagiamu
Bersama tiga matahari dan satu bulan yang menyinarimu
Semoga kebersamaan kita kian menyatu
Melawan segala masa, mengikat kesadaran dan kesaudaraan
Terima kasih Saudaraku, semoga harapan kita menjadi kenyataan
Persaudaraan kita menjadi kekal
Selamat berbahagia bersama tiga mataharimu dan bukanmu.
Saudaramu: Agus Harianto, S.Pd.
Seakan melayang hati ini untuk menjumpai melodi
Teringat saat bersama kita merintis jalan menyemai seni
Berjuta gerak dan pandang, berlaksa kata telah teruntai
Berjuta cita menjadi kebersamaan yang suci
Saudaraku, betapa hati ini menjadi sayatan seribu duri
Betapa diri ini seakan seorang pendosa yang lupa diri
Betapa aku ini telah menjadi seorang yang tak tahu diri
Betapa lama ‘tlah kulupa semua sahabat sejati
Tiba-tiba datang supucuk rindu seuntai bahagia hati
Dari Saudaraku yang dipenuhi dengan peduli
Akan arti seorang sahabat yang begitu menjadi berarti
Terima kasih kasih Saudaraku, ‘tlah aku bangkitkan hati ini
Dari tidur panjang dan lupa yang melilit jati diri
Aku memang masih terus mencari jati diri
Entah kapan kau dapatkan kebenaran sejati
Kepada bumu telah kuletakkan dahiku
Kepada langit telah kutadahkan tanganku
Kepada Tuhan telah kusembahkan sujud dan syukurku
Kini aku datang padamu Saudaraku
Dalam suka citamu, dalam bahagiamu
Bersama tiga matahari dan satu bulan yang menyinarimu
Semoga kebersamaan kita kian menyatu
Melawan segala masa, mengikat kesadaran dan kesaudaraan
Terima kasih Saudaraku, semoga harapan kita menjadi kenyataan
Persaudaraan kita menjadi kekal
Selamat berbahagia bersama tiga mataharimu dan bukanmu.
Saudaramu: Agus Harianto, S.Pd.
BEBATUAN DALAM PERJALANAN
BEBATUAN DALAM PERJALANAN
Dalam sebuah perjalanan panjang kami terantuk bebatuan tajam
Yang membuat luka menganga
Yang menjadikan diri seakan penuh dengan segala derita berkepanjangan
Yang menjadikan diri ini dikuasai oleh segala nafsu dan angkara
Kemudian menjadikan kita srigala bagi sebagian kita yang lain
Kemudian melahirkan penderitaan bagi sebagian kita yang lain
Kemudian menggoreskan luka yang semakin dalam juga bagi sebagian kita yang yang lain.
Sementara itu tiada pernah kita mencoba untuk menghilangkan atau setidaknya menjadikan tumpul tajamnya bebatuan yang membuat luka menganga
Kita tiada dari derita tajamnya bebatuan di jalan kita
Kita tiada dari derita luka menganga
Kita tiada dari derita srigala bagi sebagian kita yang lain
Tapi justru kita menikmati semuanya dengan indahnya nafsu dan angkara kita
Berenang dengan kecipaknya lautan tajam bebatauan dengan tiada lentera atau dian tauhid di sekitar kita
Ya Allah betapa sebenarnya kami terlalu jauh dari segala cerah dan cahaya tauhid
Beratus-ratus tahun sudah
Kita tak pernah istirah
Betapa panjang perjalanan
Betapa panjang bayangan Tuhan
Betapa menyilaukan cahaya Tuhan
Kadang membutakan
Kadang membutakan
Kadang membutakan
Kadang membutakan
Kini kami datang pada Mu Ya Allah dengan indahnya silahturahmi dan kebersamaan
Ingin kami rajut kembali benang-benang kusut yang mengikat kebutaan hati kami
Terimalah segala dari kami dan ampunkan segala derita hati kami.
Aku sebut namamu setiap aku sujud
namun demi kewajibanku
Kusucikan diriku
Kumohon ampunanmu dari segala dosaku
hanya padamu kuberteduh dalam hidup dan matiku
Ampuni segala dosa
Yang tak luput dari dosa-dosa
Ya Allah Ya Tuhanku
Ya Allah Ya Tuhanku bimbinglah jiwa rapuh ini
Menuju tempat bahagia
Agus Harianto, S.Pd.
Dalam sebuah perjalanan panjang kami terantuk bebatuan tajam
Yang membuat luka menganga
Yang menjadikan diri seakan penuh dengan segala derita berkepanjangan
Yang menjadikan diri ini dikuasai oleh segala nafsu dan angkara
Kemudian menjadikan kita srigala bagi sebagian kita yang lain
Kemudian melahirkan penderitaan bagi sebagian kita yang lain
Kemudian menggoreskan luka yang semakin dalam juga bagi sebagian kita yang yang lain.
Sementara itu tiada pernah kita mencoba untuk menghilangkan atau setidaknya menjadikan tumpul tajamnya bebatuan yang membuat luka menganga
Kita tiada dari derita tajamnya bebatuan di jalan kita
Kita tiada dari derita luka menganga
Kita tiada dari derita srigala bagi sebagian kita yang lain
Tapi justru kita menikmati semuanya dengan indahnya nafsu dan angkara kita
Berenang dengan kecipaknya lautan tajam bebatauan dengan tiada lentera atau dian tauhid di sekitar kita
Ya Allah betapa sebenarnya kami terlalu jauh dari segala cerah dan cahaya tauhid
Beratus-ratus tahun sudah
Kita tak pernah istirah
Betapa panjang perjalanan
Betapa panjang bayangan Tuhan
Betapa menyilaukan cahaya Tuhan
Kadang membutakan
Kadang membutakan
Kadang membutakan
Kadang membutakan
Kini kami datang pada Mu Ya Allah dengan indahnya silahturahmi dan kebersamaan
Ingin kami rajut kembali benang-benang kusut yang mengikat kebutaan hati kami
Terimalah segala dari kami dan ampunkan segala derita hati kami.
Aku sebut namamu setiap aku sujud
namun demi kewajibanku
Kusucikan diriku
Kumohon ampunanmu dari segala dosaku
hanya padamu kuberteduh dalam hidup dan matiku
Ampuni segala dosa
Yang tak luput dari dosa-dosa
Ya Allah Ya Tuhanku
Ya Allah Ya Tuhanku bimbinglah jiwa rapuh ini
Menuju tempat bahagia
Agus Harianto, S.Pd.
Langganan:
Postingan (Atom)